wahyusuwarsi.com

NOVEL MEI MERAH 1998: KALA ARWAH BERKISAH


Novel Mei Merah 1998

Membaca novel-novel dengan genre historical fiction selalu menarik. Dari novel-novel tersebut kita tahu latar belakang sejarah negara ini, yang kadang tak pernah diungkap. Novel yang saya baca kali ini adalah Mei Merah 1998 Kala Arwah Berkisah dengan latar belakang sejarah Indonesia kelam tahun 1998. Pada waktu itu terjadi demo dimana-mana yang menuntut Presiden Soeharto lengser. Masyarakat benar-benar marah, hingga terjadi penjarahan, pembakaran gedung-gedung bahkan pemerkosaan terhadap wanita-wanita tak bersalah, baik itu non pribumi maupun pribumi. Novel ini mengisahkah tentang salah satu korban pemerkosaan saat tragedi 1998, terinspirasi gejolak yang terjadi menjelang Era Reformasi Mei 1998.

Karya Naning Pranoto yang diterbitkan Yayasan Pustaka Obor Indonesia pada tahun 2025. Membaca novel setebal 200 halaman ini tak memerlukan waktu lama, karena membuat penasaran endingnya.

Covernya menarik, dominan warna merah dan gambar wajah seorang wanita. Ditulis dengan POV yang berbeda-beda, namun alur ceritanya saling berkesinambungan.

SINOPSIS

Cerita diawali dengan percakapan di kuburan antara arwah Humaira, Kamboja dan pipi rata (Pita). Humaira meminta kamboja untuk menyelidiki anaknya bernama Luk Luk. Siapakah sebenarnya Humaira? Dia adalah seorang korban pemerkosaan tragedi 1998 yang kemudian melahirkan anak, yang tentunya bapaknya tidak diketahui. Karena martabatnya direnggut oleh para lelaki beringas saat itu.

Mengisahkan tentang Humaira berasal dari kota Jogja, setelah lulus kuliah ingin merantau ke Jakarta untuk mencari kerja atas ajakan sahabatnya bernama Shinta. Humaira adalah anak ibu Inten seorang dukun pijat bayi yang terkenal. Sebenarnya Humaira adalah anak angkat yang diambil dari seorang gadis keturunan non pribumi yang melahirkan tanpa suami, kemudian bayi itu diadopsi ibu Inten hingga kini.

Humaira tumbuh menjadi gadis cantik berkulit langsat, bermata sipit khas keturunan Tionghoa. Tetapi ibu Inten mendidiknya dengan sangat baik sehingga Humaira tumbuh menjadi gadis yang rajin beribadah, berakhlak dan sangat sopan. Dia tumbuh menjadi gadis dalam didikan muslim yang sangat taat.

Di Jakarta Humaira mendapat pekerjaan sebagai kasir sebuah resto milik Herlinawati (Cik Lin) atas rekomendasi dari Shinta. Namun siapa yang menyangka, nasib malang menimpa Humaira.

Saat itu hari ke-10 Humaira mengikuti training menjelang pembukaan resto baru tempatnya bekerja. Terjadi demo besar-besaran menjelang era reformasi Mei 1998 yang menuntut Presiden Soeharto lengser. Banyak kerusuhan dimana-mana, pembakaran gedung-gedung dan mall, penjarahan barang-barang dan bahkan terjadi pemerkosaan yang korbannya tak hanya wanita non pribumi, wanita pribumi pun banyak yang menjadi korban perkosaan. Mereka disiksa dan diperkosa beramai-ramai hingga sekarat,kemudian jenazahnya dibuang atau ditinggalkan begitu saja. Humaira termasuk salah satu korban pemerkosaan beberapa laki-laki tak bermoral, diseret dan dibuang ke sungai dalam kondisi sekarat.

Humaira ditemukan para relawan dan seorang romo (romo Yosef) kemudian dirawat, dan ternyata Humaira hamil. Kondisi ini sangat mengguncang jiwanya. Humaira stress berat.

Karena kondisi yang tidak stabil, Humaira dibawa ke Jogja dan dirawat di susteran Immaculata oleh suster Jo. Suster Jo adalah adik romo Yosef. Suster Jo mengenal HUmaira dulu sebagai muridnya yang cerdas dan murid teladan.

Humaira melahirkan seorang bayi perempuan di sebuah klinik. Namun karena kondisi jiwanya masih terguncang, Humaira mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. Sebelumnya dia meninggalkan sebuah surat, untuk memberi nama anaknya Luk Luk yang artinya mutiara. Hanya beberapa orang yang tahu kelahiran Luk Luk, yakni suster Jo, seorang pegawai klinik Bu Julia dan bu bidan, Singkat cerita Luk Luk diadopsi oleh Bu Yayuk dan Pak Tirto seorang guru.

Luk Luk hendak mencari orangtua kandungnya. Karena teror Lexy teman FB yang menceritakan bahwa Luk Luk bukan anak kandung bu Yayuk. Lexi menerornya karena ditolak cintanya oleh Luk Luk. Lexy adalah anak Kulia kepala klinik tempat Luk Luk dilahirkan, mencuri dokumen dan foto kelahiran Luk Luk dari lemari ibunya. Dokumen dan foto itu yang digunakan meneror Luk Luk.

Melarikan diri dari rumah hendak menuju Jakarta hingga ditemukan satpam Darwati (pada hari ke-3) di stasiun dan diberi tumpangan sementara.

Shinta dari Australia dan Cik Lin dari Hongkong, jauh-jauh datang ke Indonesia untuk bertemu Luk Luk dan nyekar ke makam Humaira.

Pagi itu di sebuah hotel mereka bertemu, Kuk Luk diantar Darwati satpam, bu Yayuk dan dua kakaknya, Cik Lin, Shinta dan bu Julia. Pertemuan yang mengharukan. Disinilah semuanya terbuka, bahwa Lexi yang selama ini meneror Luk Luk ternyata adalah anak ibu Julia penjaga klinik.

Humaira merasa lega karena kamboja menepati janjinya menemukan Luk Luk. Pagi ini mereka bersama-sama ziarah ke makam Humaira dan mendoakan arwahnya. Kabar baiknya adalah bu Yayuk mengizinkan Luk Luk melanjutkan kuliah di Australia dengan beasiswa dari Cik Lin.

PENUTUP

Novel ini berlatar belakang sejarah kelam Indonesia menjelang era reformasi 1998. Arwah Humaira yang merasa belum tenang bila belum bertemu Luk Luk anaknya. Namun akhirnya arwah Humaira merasa tenang setelah Luk Luk dan Shinta sahabatnya ziarah ke makam dan mendoakannya.

Ada beberapa sudut pandang dari tokoh-tokoh dalam novel ini. Sudut pandang arwah Humaira, Luk Luk, Ibu Yayuk, Suster Jo, Shinta, Cik Lin, Darwati dan Lexy yang semuanya merupakan rangkaian alur cerita yang urut.

Awalnya saya kurang tertarik dengan pembicaraan para arwah dan yang ada di pikiran saya adalah cerita horor. Namun semakin ke belakang, isinya semakin menarik dan nyambung antara pov satu dan lainnya.

Dalam novel ini banyak istilah-istilah bahasa Jawa dan Sunda tetapi tidak ada penjelasan atau catatan kaki kosakata tersebut. Karena tidak semua orang berasal dari Jawa dan Sunda sehingga tak semua tahu arti kosa katanya.

Lexy yang meneror Luk Luk juga diceritakan pergi begitu saja dan tidak ada penyelesaian secara hukum, jadi ceritanya seperti menggantung.

Tetapi dari novel ini bisa diambil pelajaran bahwa sejarah tidak boleh ditutupi. Sejarah harus diingat dan diceritakan pada generasi muda (gen Z). Mereka wajib tahu sejarah kelam Indonesia tahun 1998. Selamat membaca buku ini.

‹ Lebih lamaTerbaru ✓

Posting Komentar