wahyusuwarsi.com

KDRT: MENINGGALKAN RASA LUKA PADA WANITA

 

Wanita sedang bersedih

Dalam kehidupan berumah tangga, banyak hal yang tidak diungkap utamanya yang menimpa kaum wanita. Rasa luka karena pengkhianatan, kata-kata yang membekas (verbal abuse), pengalaman hidup yang membentuk dan karena trauma (misalnya karena KDRT). Disini saya ingin membahas tentang KDRT yang menimbulkan rasa luka pada wanita, baik itu luka psikis, luka batin maupun luka fisik. Sebenarnya KDRT tidak hanya menimpa wanita namun juga banyak anak-anak yang menjadi korbannya. Maraknya kasus KDRT di masyarakat ini menimbulkan rasa miris dan keprihatinan.

Data KDRT di daerah Semarang pada tahun 2025 menunjukkan peningkatan sebesar 334 kasus dibandingkan tahun 2024 sebesar 266 kasus (sumber: DP3A kota Semarang). Ini menunjukkan bahwa KDRT tidak hanya terjadi di daerah saja, bahkan di kota besarpun kasus ini sudah banyak terjadi di masyarakat.

Data kekerasan di Semarang
data-kekerasan-di-kota-semarang
(Gambar: DP3A Semarang)

Ada Berita Baik dalam rangka milad Ipedia ke-6 tahun 2026, yakni akan dilaksanakan lomba menulis blog dengan tema “Perempuan Bicara Rasa.”

APA SAJA YANG MENYEBABKAN KDRT?

Ada banyak hal yang menyebabkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang awalnya hanya dipicu masalah kecil, namun akhirnya meledak menjadi masalah yang besar.

Masalah ekonomi juga dapat menjadi pemicu KDRT. Seorang kepala rumah tangga (ayah) dengan gaji minimal, sementara kebutuhan semakin banyak, harga-harga kebutuhan semakin hari semakin mahal, hal ini disebut stress finansial, bisa menjadi penyebab yang memicu pertengkaran suami istri. Suami merasa sudah bekerja keras namun istri tidak menghargai. Puncaknya terjadi KDRT.

Pada beberapa kasus terjadi pernikahan dini yang disebabkan kecelakaan (hamil diluar nikah). Agar keluarga tidak menanggung rasa malu, maka pasangan yang belum cukup umur tersebut dinikahkan. Kepala rumah tangga belum bekerja dan belum mampu secara finansial, sementara kebutuhan semakin banyak. Hal ini juga dapat memicu pertengkaran bahkan KDRT, disebabkan masing-masing tidak dapat mengendalikan emosi atau menahan marah, karena usia yang masih terlalu muda.

Seseorang yang masa kecilnya ada di lingkungan yang keras, misalnya terbiasa dengan pendidikan dan disiplin militer dari orang tuanya, nantinya saat berumah tangga perlahan-lahan akan tertanam pola tersebut untuk diterapkan di lingkungan keluarga kecilnya. Sementara istri yang tidak terbiasa dengan sikap otoriter tersebut, pastinya merasa tidak nyaman dan akan memprotes sikap si suami. Hal ini akan menyebabkan pertengkaran manakala si suami tidak mau dikritik dan tidak mau memperbaiki sikapnya.

Selain itu adanya masalah KDRT juga dipicu karena perselingkuhan dari pasangan, adanya rasa saling tidak percaya, adanya sikap otoriter dari pasangan (pria) yang ingin menguasai dan selalu mengatur istrinya serta banyak lagi kasus-kasus pemicu KDRT lainnya.

Dalam hal ini yang lebih banyak dirugikan adalah kaum wanita. Kejadian-kejadian tersebut di atas menimbulkan rasa luka pada wanita. Karena banyak wanita yang tidak berani bicara (speak up) bahwa suaminya telah melakukan KDRT. Rasa luka itu berpengaruh pada kesehatan mental wanita atau bisa dikatakan sebagai luka batin yang sulit disembuhkan.

MENGAPA KORBAN KDRT TIDAK BERANI BICARA?

Banyak wanita korban KDRT yang memilih untuk diam (tidak mau berbicara). Beberapa alasannya antara lain adalah:
  • Banyak wanita yang menggantungkan hidupnya dari suami atau istri tidak punya nafkah (bergantung secara ekonomi pada suami). Menimbulkan rasa khawatir bila tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup terutama untuk anak-anaknya. Seringkali KDRT terjadi pada keluarga muda, dimana anak-anak masih membutuhkan biaya untuk sekolah dan lainnya.
  • Wanita korban KDRT merasa malu melaporkan kejadian tersebut, malu pada keluarga maupun lingkungan masyarakat. Karena ada juga rasa takut bila mereka tidak percaya dan malah menyalahkannya.
  • Korban KDRT merasa takut dan trauma, apabila melaporkan kejadian tersebut akan mendapat kekerasan yang lebih parah.
  • Takut bila anak tidak mempunyai ayah (fatherless) dan kurang kasih sayang dari ayah, karena itu lebih baik diam dan bertahan dalam suasana yang tidak nyaman sekalipun.
  • Karena berharap suami akan berubah sikap dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.
  • Wanita kurang tahu akan hak-haknya dan tidak tahu ke lembaga mana harus mencari bantuan.

LANGKAH-LANGKAH APA YANG HARUS DILAKUKAN KORBAN KDRT?

KDRT tidak hanya menimbulkan trauma dan kehilangan percaya diri, namun menimbulkan rasa luka yang mendalam. Rasa luka ini menyebabkan kesehatan mental (mental health) terganggu. Dampak yang paling sering terjadi adalah stress, tidak bisa mengendalikan emosi dan meluapkan emosi pada anak-anak yang masih kecil. Namun apa daya, untuk bicara pun mereka tidak berani, bahkan merasa ketakutan.

Para wanita korban KDRT hendaknya berani mengambil langkah atau tindakan di bawah ini:
  • Bila terjadi KDRT, carilah dukungan orang-orang yang dapat dipercaya. Tidak perlu malu, namun ceritakan kejadian yang sebenarnya, baik itu pada keluarga, teman dekat maupun sahabat.
  • Melaporkan kejadian ke instansi atau lembaga perlindungan terhadap perempuan dan anak. Dalam hal ini adalah DP3A (Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) di wilayah masing-masing daerah.
  • Melaksanakan visum di rumah sakit dan dokumentasi akibat tindak kekerasan, sebagai bukti untuk melaporkan kejadian tersebut.
  • Apabila terjadi kekerasan yang berulang, selamatkan diri dan anak-anak agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

PENUTUP

Diamnya korban KDRT disebabkan karena adanya trauma dan rasa takut akibat perlakuan yang didapatkan. Rasa takut ini menimbulkan rasa luka, luka batin yang sulit sembuh dan membekas seumur hidupnya.

Karena itulah wahai para wanita korban KDRT, beranilah untuk bersuara dan berbicara. Jangan hanya diam dan menerima kondisi, karena akan mempengaruhi kesehatan mental. Ibu yang kesehatan mentalnya terganggu tentunya akan berdampak pada anak-anak dan keluarga. Bila ibu bahagia, maka keluarga dan anak-anak juga akan bahagia. Semoga bermanfaat.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026.”
‹ Lebih lamaTerbaru ✓

Posting Komentar