![]() |
SINOPSIS
Tokoh utama dalam novel ini adalah Marien Veenhoven seorang gadis keturunan Belanda yang sudah dua tahun ini menjadi mualaf. Marien kemudian mengganti namanya menjadi Khadija karena kekagumannya pada Khadija isteri pertama Rasullullah.Sebuah tempat untuk bersantai warga di alun-alun berumput hijau dan dikelilingi berbagai museum serta gedung-gedung penting bergaya klasik, tempat ini adalah Museumplein. Disini seorang mahasiswa yang juga fotografer bernama Nicolaas Van Dijk bertemu Khadija. Sebuah pertemuan yang tak disengaja. Saat itu Nico sedang memotret berbagai objek disana. Lalu dilihatnya ada seorang gadis sedang duduk membaca buku, maka di potretlah gadis itu tanpa sepengetahuannya. Dan hasil fotonya sungguh membuatnya terkejut, foto gadis itu nampak dikelilingi cahaya. Esoknya kembali Nico menemui Khadija dan berkenalan, hingga keduanya berteman baik.
Nico mempunyai ibu asli Indonesia dan ayah Belanda. Ibunya pergi meninggalkan Nico dan ayahnya saat Nico masih kecil, dan ibunya kembali ke Indonesia. Ini karena adanya perbedaan agama antara ibu dan ayah Nico. Hingga saat ini Nico benci pada ibunya dan meninggalkan luka batin yang sangat dalam. Mengapa ibu meninggalkan Nico saat dia masih kecil? Hal itu yang selalu menjadi pertanyaan dalam hatinya dan mengingatnya hanya akan membuatnya sakit hati.
Khadija memeluk Islam, namun kedua orang tuanya tidak setuju sehingga hubungan keduanya semakin jauh dan tidak harmonis. Kedua orang tuanya merasa aneh dengan cara berdoa yang dianut Khadija, dan mereka juga heran dengan cara berpakaiannya yang serba tertutup. Berbaju panjang dan memakai kerudung menutupi rambutnya.
Khadija belajar agama Islam di Euromuslim yakni sebuah tempat belajar agama dan beribadah orang-orang muslim di Belanda. Dan di tempat ini jugalah Khadija mengucapkan dua kalimat syahadat untuk menjadi seorang muslim.
Di bulan ramadhan tanpa sengaja Khadija bertemu Kamala (Mala) seorang mahasiswi seni tari di sebuah universitas terkenal. Mala berasal dari Jogja dan mendapat beasiswa untuk kuliah di Amsterdam, mendalami seni tari. Di halte bus itulah akhirnya Khadijah dan Mala berkenalan, kemudian Khadijah menawarkan kurma dan air putih untuk berbuka. Maghrib telah tiba namun bus yang mereka tunggu belum datang juga.
Mala sudah satu tahun di Belanda. Namun ada yang mengganjal hatinya, dia merasa malu pada Khadija yang mualaf tetapi sangat taat menjalankan agama Islam. Sedangkan Mala? Sudah hampir setahun ini dia tidak pernah shalat dan puasa. Mukena yang dibawakan ibunya dari Jogja masih tersimpan rapi di lemari. Mala tinggal sekamar bersama Emili yang memang tidak pernah peduli dengan agama apapun.
Berkenalan dan berteman dengan Khadija membawa kebaikan pada Mala yang akhirnya rajin datang ke pengajian di Euromuslim dan mulai rajin shalat.
Dari beberapa pertemuan, Khadija memperkenalkan Nico pda Mala. Dan Mala juga sempat difoto oleh Nico pada saat mementaskan tarian-tariannya. Sebenarnya Mala menaruh hati pada Nico namun Nico telah jatuh cinta pada Khadija sejak mereka pertama kali bertemu.
Khadija mempunyai prinsip untuk tidak pergi berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Hingga pada suatu hari Nico mengajak Khadija ke sebuah tempat pembuatan bir untuk survey pemotretan, dan mereka duduk berdua di sebuah cafe dekat pabrik itu. Cafe itu juga ada minuman yang halal seperti juice dan yang lainnya, Khadija memesan minuman yang halal. Entah bagaimana Mala tahu bahwa Nico dan Khadija pergi bersama. Mala marah terhadap Khadija dan menganggap Khadija munafik, karena telah pergi berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
Beberapa bulan kemudian Mala hendak pulang ke Indonesia menghadiri suatu festival tari, Nico pun ikut serta untuk mencari jejak ibunya, yakni bu Kamaratih di Salatiga. Mala dengan setia mengantar Nico mencari ibunya, dan bertemu ibunya yang sudah mempunyai keluarga baru (pak Damar suaminya dan Bayu serta Nuning anaknya). Bu Kamaratih sangat gembira bertemu Nico, namun Nico masih angkuh menunjukkan rasa tak suka pada ibunya. Nada bicaranya terdengar ketus. O ya, saat datang ke Indonesia, Pieter ikut menyusul. Pieter adalah sepupu Khadija, dia seorang dokter gigi, dan Pieter merasa jatuh cinta pada Mala. Karenanya dia menyusul ke Indonesia, yang mungkin juga merasa cemburu pada Nico.
Nico datang lagi ke Indonesia setelah dua bulan kembali ke Belanda, namun kali ini dia datang seorang diri. Memberanikan diri datang ke Salatiga untuk menemui ibunya dan minta maaf. Tetapi semua sudah terlambat, karena sesampainya di Salatiga yang dijumpainya hanya Bayu dan Nuning. “Ibu sudah pergi dan tidak kembali lagi, mas Nico.” Keduanya mengajak Nico ke makam Ibu Kamaratih. Nico sangat menyesal, di saat dia sadar dan ingin meminta maaf pada ibunya, namun ibu sudah pergi selama-lamanya. Kembali ke Belanda dengan kekecewaan dan kesedihan mendalam.
Bagaimana dengan Pieter? Pieter mulai tertarik mempelajari Islam dan mulai belajar Islam dan shalat di Euromuslim. Delapan bulan setelah belajar Islam, Pieter mantap menjadi mualaf dan masuk Islam. Kemudian Pieter datang ke Indonesia dan melamar Mala.
Lalu bagaimana hubungan Nico dan Khadija? Nico akhirnya juga tertarik menjadi mualaf, dan mulai belajar tentang Islam di Euromuslim. Kemudian Nico melamar Khadija yang ternyata juga mencintainya.
Karena manusia memang diciptakan beragam. Tuhan bilang supaya kita saling mengenal. Manusia memang tidak akan bisa seragam, punya cara hidup dan keyakinan pilihan sendiri. Yang harus kita lakukan adalah saling menghargai pilihan masing-masing (hal 237).
BAGAIMANA KESAN MEMBACA BUKU INI
Cerita yang disajikan mengalir dan mudah dimengerti. Saya kagum dengan sosok Khadijah yang benar-benar mempertahankan prinsip dalam menjaga keyakinan barunya, dan benar-benar taat menjalankan Islam ditengah-tengah budaya Eropa yang terkenal bebas. Dan di tengah-tengah negara dengan jumlah penduduk Islam yang minim.Khadijah benar-benar menjalankan agama Islam secara total, bahkan berpuasa wajib serta puasa sunnah Senin-Kamis pun dijalaninya.
Satu hal lagi yang membuat saya salut dengan cerita di novel ini, yakni penulis menciptakan tokoh Khadijah yang berhasil menyadarkan temannya (Mala) untuk berubah dan kembali rajin beribadah, tanpa menggurui atau mendikte. Selain itu sosok Khadijah ini sedikit banyak juga menjadi pengaruh Pieter dan Nico untuk menjadi mualaf (masuk Islam). Khadijah hanya memberi contoh dan teladan bagi orang-orang disekitarnya dengan taat beribadah dan memegang syariat Islam dengan baik, Hingga orang-orang tersebut mulai tertarik belajar Islam dan menjadi mualaf. Mungkin ini bisa disebut juga syiar Islam.
Penulis sangat pintar membawa pembaca ke suasana keindahan kota Amsterdam dan sungai de Amstel, sehingga pembaca merasa seolah-olah ada disana, ikut membayangkan suasana di Amsterdam dengan bangunan-bangunan klasik dan kanal-kanal cantiknya.
Banyak pesan agama yang dapat saya tangkap, dan disampaikan dengan natural serta tidak menggurui. Sebagai mualaf Khadijah berusaha untuk terus menerus memperbaiki diri.
Jadi saya sangat merekomendasikan teman-teman untuk membaca novel ini. Semoga bermanfaat,


Posting Komentar