Banyak kasus yang terjadi di masyarakat dan melibatkan remaja. Sebagian kasus yang terjadi disebabkan kurangnya komunikasi antara remaja dan orang tua. Beberapa contoh kasus sering kita baca di media. Seorang remaja yang mendapat perundungan (bullying) di sekolah, tidak berani menceritakannya pada orang tua tentang kejadian ini karena merasa bahwa orang tuanya tak mau mendengarkan atau bahkan menghakimi. Dampaknya bisa berpengaruh pada kondisi psikisnya. Remaja ini menjadi pendiam, menutup diri dan prestasinya menurun drastis. Bahkan yang lebih parah, tidak mau masuk sekolah karena takut dibully teman-temannya, atau mungkin pindah sekolah.
Pada kasus yang lebih parah, banyak remaja yang bunuh diri akibat mempunyai sebuah masalah yang orang tuanya pun tidak mengetahui, misalnya terlibat pinjaman online, salah pergaulan atau bahkan terjerumus ke dalam obat-obatan terlarang.
Demikian juga misalnya dalam hal pemilihan pendidikan maupun karier. Remaja menginginkan mengambil jurusan tertentu sementara orang tua tidak setuju dengan pilihan anaknya. Hal ini akan memicu ketegangan dalam hubungan antara orang tua dan remaja, disebabkan tidak adanya komunikasi yang terbuka antara keduanya. Orang tua cenderung memaksakan kehendaknya, sehingga remaja menjalankan kuliah dengan setengah hati bahkan terancam DO.
Remaja kehilangan kepercayaan terhadap orang tua, disebabkan karena orang tua langsung memarahi ataupun menghakimi bila anak punya kesalahan.
FAKTOR KURANGNYA KOMUNIKASI ANTARA REMAJA DAN ORANG TUA
Adanya komunikasi yang tidak lancar di antara orang tua dan remaja biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, baik itu faktor dari orang tua maupun dari remaja sendiri. Dibawah ini akan diulas beberapa faktor tersebut. Simak ulasannya di bawah ini.ADANYA KESIBUKAN ANTARA ORANG TUA DAN REMAJA
Seringkali antara orang tua dan remaja jarang terjadi komunikasi disebabkan kesibukan masing-masing. Orang tua terlalu sibuk bekerja sehingga tak punya waktu sedikitpun untuk anak. Sementara si remaja pun juga sibuk dengan sekolahnya, kegiatannya bahkan sibuk dengan teman-teman sebayanya. Sehingga walaupun serumah namun tiada waktu untuk bertemu atau berkomunikasi.SIKAP KURANG TERBUKA
Banyak orang tua yang tidak mau memahami anaknya bahkan cenderung marah atau menghakimi bila remaja bercerita tentang masalahnya. Hal inilah yang biasanya menyebabkan remaja enggan untuk bicara dengan orang tua dan cenderung menyimpan sendiri masalah yang sedang dihadapinya. Mereka takut dimarahi atau bahkan tidak didengarkan bila bercerita pada ayah ibunya.BERBEDA CARA PANDANG
Remaja-remaja itu ingin menunjukkan bahwa dia telah remaja dan ingin mandiri, dengan kata lain remaja sedang mencari jati dirinya. Jadi dia cenderung tidak mau diatur. Sedangkan orang tua kadang masih menganggap mereka anak kecil yang bisa diatur-atur. Hal ini sering menjadikan perbedaan pendapat diantara keduanya.TERLALU BANYAK MENGKRITIK DAN MEMBERI NASIHAT
Banyak orang tua yang terlalu sering mengkritik. Jangankan memberi masukan, mereka cenderung mengkritik, menghakimi atau memberi nasihat yang terlalu panjang. Sebenarnya tanpa dinasihati panjang lebarpun, remaja sudah tahu kewajiban-kewajibannya. Jadi ayah bunda bila menasihati gunakan “kata kunci” saja, tak usahlah terlalu panjang lebar. Remaja akan merasa jenuh dengan nasihat dan kritik yang terlalu panjang dan padat. Akibatnya dia malah abai dengan nasihat-nasihat yang telah diberikan.PENDIDIKAN YANG OTORITER
Banyak orang tua yang menerapkan pendidikan otoriter ala militer. Dalam hal ini orang tua cenderung selalu memaksakan kehendaknya, selalu memerintah tanpa mau memberi kesempatan atau mendengarkan pendapat anaknya, sehingga mereka (remaja) merasa tertekan dan memilih diam.TERLALU BANYAK MENGONTROL
Remaja akan menjadi kurang percaya diri bila orang tua memberikan pengawasan yang berlebihan. Orang tua tidak perlu berlebihan selalu ingin tahu setiap detail kehidupan remaja, selain itu juga jangan terlalu sering melarang. Karena hal ini akan membuat remaja merasa tidak dipercaya lagi oleh orang tuanya.WAKTU BERKUALITAS YANG KURANG
Hubungan antara masing-masing anggota keluarga kurang dekat karena kesibukan masing-masing. Orang tua tidak mau meluangkan waktu untuk anaknya, sekadar duduk bersama, makan bersama atau saling bercerita (menikmati quality time). Sementara anak-anak juga sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sehingga hubungan menjadi kurang dekat.ADANYA PENGARUH TEKNOLOGI DAN MEDIA SOSIAL
Setiap anggota keluarga hanya fokus pada layar gawai sehingga tidak terjadi interaksi dan komunikasi antara satu dan lainnya.PERUBAHAN MASA REMAJA
Remaja ingin memiliki privasi lebih banyak, sehingga cenderung lebih dekat dengan teman-teman sebayanya. Hal inilah yang membuat intensitas komunikasi dengan orang tua jadi berkurang.ORANG TUA TIDAK MAU MENDENGARKAN
Seringkali orang tua terlalu banyak bicara namun tidak mau mendengarkan apa yang menjadi masalah pada anaknya. Anak jadi enggan untuk bicara karena merasa percuma berbicara bila orang tua tak mau mendengarkan.MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG BAIK ANTARA REMAJA DAN ORANG TUA
Komunikasi yang baik antara remaja dan orang tua akan terbentuk dengan kesabaran dan konsistensi, yang semuanya itu membutuhkan waktu. Remaja akan merasa dihargai dan lebih terbuka kepada orang tua, bila sebagai orang tua melakukan pendekatan dan solusi yang tepat.Remaja mulai menutup diri bila enggan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan, sering menghabiskan waktu sendirian, tidak mau bercerita tentang sekolah atau teman-temannya, tidak nyaman saat diajak bicara dan lebih sering curhat kepada temannya dibandingkan kepada orang tuanya.
Bila remaja sudah mulai menutup diri atau enggan berkomunikasi dengan orang tua, sebaiknya sebagai orang tua mencari cara agar komunikasi dapat terjalin kembali dengan baik. Berikut ini adalah beberapa cara yang harus dilakukan orang tua agar komunikasi dengan remaja terjalin dengan baik.
MELUANGKAN WAKTU DAN MENDENGARKAN
Luangkan waktu khusus untuk mengobrol dengan remaja. Dalam hal ini adalah mengobrol santai tanpa menginterogasi. Lakukan pendekatan terhadapnya, dengan penuh kesabaran dengarkan ceritanya hingga selesai. Setelah ceritanya selesai, barulah orang tua bisa memberi nasihat. Posisikan diri orang tua layaknya sebagai teman atau sahabat, sehingga remaja merasa aman dan nyaman curhat terhadap orang tuanya.MENGHARGAI PERASAAN
Bila remaja sedang bercerita (curhat) tentang masalahnya, hargailah perasaannya meskipun mungkin orang tua kurang setuju dengan pendapatnya. Dengarkan hingga ceritanya selesai, untuk kemudian bersikap bijak dengan memberi saran atau solusi terbaik kepadanya. Remaja akan merasa dihargai bila orang tua mau mendengarkan dan mendukungnya.MENGURANGI KRITIK
Banyak orang tua yang selalu mengkritik anak tanpa memberi kesempatan mereka untuk menyampaikan pendapatnya. Sebaiknya hindari mengkritik dan sebaliknya beri apresiasi kepada mereka sehingga mereka akan merasa sangat dihargai.MEMBANGUN KOMUNIKASI SANTAI
Luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan remaja, misalnya saat-saat sedang santai, atau saat makan bersama seluruh anggota keluarga, bisa juga saat sedang piknik keluarga. Pendekatan-pendekatan ini akan lebih mengena dan berhasil karena suasana hati mereka tentunya sedang santai dan good mood. Posisikan orang tua selayaknya teman curhat atau sahabat bagi mereka.PENUTUP
Komunikasi yang baik antara remaja dan orang tua akan terjalin apabila remaja merasa dihargai, mereka butuh didengar, dipahami dan merasa diterima oleh orang tuanya.Karenanya orang tua harus bisa menempatkan diri sebaik-baiknya menghadapi anak remaja. Tidak ada salah nya melakukan pendekatan yang baik untuk terjalinnya komunikasi. Posisikan diri orang tua selayaknya teman curhat atau sahabat bagi remaja. Semoga bermanfaat.


Posting Komentar