wahyusuwarsi.com

NOVEL ROMANSA OPIUM ANTARA KEKUASAAN DAN CINTA DI ERA KOLONIAL


Novel Romansa Opium

Novel bergenre historical fiction ini ditulis oleh Gigrey, diterbitkan Penerbit AKAD. Cetakan Desember 2025 setebal 426 halaman. Covernya menarik dengan dominasi warna kuning dan merah serta gambar seorang wanita berjubah putih membawa sebuah bendera biru. Yang menarik bagi saya adalah judulnya Romansa Opium, dimana opium adalah barang haram sejenis tjandoe yang berjaya pada masa itu.

SINOPSIS

Novel ini berlatar Hindia Belanda pada akhir abad ke-19, menceritakan seorang wanita bernama Johanne Van der Meer. Lahir dari ayah keturunan Belanda (John Van der Meer) dan ibu asli pribumi. Johanne kecil tidak dikehendaki oleh ayahnya, karena dituduh dialah yang menjadi penyebab wafatnya ibunya ketika melahirkannya. Sikap John Van der Meer terhadap anaknya juga tidak simpatik dan mencerminkan kasih sayang seorang ayah pada anaknya, bahkan membencinya. Karenanya Johanne ingin menyingkirkan identitas inlandernya. Johanne dilahirkan layaknya wanita pribumi dengan kulit coklat dan rambut keriting. Hanya dari kakeknya (Johan Van der Meer), Johanne mendapat kasih sayang berlebihan.

Sang kakek menginginkan kelak Johanne bisa mewarisi bisnis keluarga di bidang teh dan gula. Johan mengirimkan Johanne ke Belanda menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Selama 10 tahun Johanne hidup di Belanda. Namun di negara tersebut masih ada diskriminasi warna kulit. Dia sering mendapat pembullyan dari teman-teman Belandanya, disebabkan kulitnya tak sewarna dengan orang-orang Belanda. Walaupun secara prestasi, Johanne lebih dari mereka, namun dia terus direndahkan karena perbedaan warna kulit.

Johanne sangat ingin berkuasa atas perusahaan dagang milik Van Der meer. Johanne berjanji pada dirinya sendiri untuk bersiap menanggung dosa demi kekuasaan yang telah dijanjikan kakeknya. Dia memang berambisi dan sejak kecil sudah dijadikan Van Der meer oleh kakeknya, menghilangkan identitas inlandernya.

Kembali ke Batavia setelah 10 tahun di Belanda, dan bertekad menjadi penguasa di kerajaan Van Der Meer. Perusahaan dagang Van Der Meer memproduksi gula dan teh, namun secara tersembunyi juga memproduksi tjandoe yang diedarkan secara terselubung di masyarakat. Pada masa itu banyak masyarakat pemakai barang haram tersebut. Bahkan para regent (bupati) juga mendapat jatah tjandoe sehingga mereka bisa disetir oleh Johan Van Der Meer sebagai anjing-anjing peliharaannya. Istilahnya untuk para regent yang bekerja di perusahaan Van Der Meer.

Dalam novel ini diceritakan bahwa di atas bukit tersembunyi terdapat kebun bunga popi sebagai bahan pembuat tjandoe. Pekerjanya adalah anak-anak gadis di bawah umur, diambil dari jalanan atau panti sosial. Mereka dibiarkan mati begitu saja, dikubur dengan tidak berperikemanusiaan setelah mengolah bunga-bunga popi menjadi tjandoe. Tangan mereka membusuk, kuku jari menghitam dan napas sesak hingga mereka mati karena keracunan bunga popi.

Disinilah terjadi pergulatan batin Johanne, antara belas kasihan (kemanusiaan) nasib anak-anak perempuan tersebut atau membiarkan hal ini terjadi demi kekuasaan. Johanne telah siap menanggung dosa.

Dalam perjalanannya, Johanne berkenalan dengan Jayantaka seorang dokter di daerah. Jayanyaka adalah putera pertama regent, yang dicalonkan menjadi regent berikutnya oleh Johan Van Der Meer, menggantikan ayahnya. Tetapi Jayantaka menolak menjadi regent dan lebih memilih menjadi dokter untuk mengobati masyarakat yang terkena tjandoe. Jayantaka ikut dalam pemberontakan memerangi tjandoe.

Johanne dihadapkan pada dua pilihan, antara kekuasaan dan cinta. Johanne dan Jayantaka saling jatuh cinta, namun Johanne lebih memilih kekuasaan dan meneruskan perusahaan Van Der Meer.

Ada sosok seorang anak laki-laki bernama Pieter yang menjadi asisten Johanne. Pieter sangat loyal dan setia pada Johanne, selalu menjadi pahlawan dan melindungi kemanapun Johanne pergi. Apapun perintah Johanne, Pieter siap melaksanakannya.

Di akhir cerita ada plot twist dari tokoh utama bahwa ternyata Johanne bukan dari keluarga Van Der Meer yang asli dan sama sekali tidak punya darah nonik Belanda.
Dan Johanne lebih memilih kekuasaan dibanding cintanya pada Jayantaka. Namun cerita berakhir tragis.
Aku, Johanne Van Der Meer, dengan bangga menyatakan bahwa aku siap untuk menjadi salah satu pendosa itu. Atau mungkin…saat tanah air kita sepenuhnya merdeka, izinkan aku untuk mencintaimu sekali lagi. Sebagai manusia yang bebas dan merdeka… (halaman 424).
Bagaimana kelanjutannya? Silahkan dibaca novel Romansa Opium.

KESAN MEMBACA BUKU INI

Ditulis dengan alur maju dan bahasanya mudah dimengerti. Istilah-istilah bahasa Belanda dijelaskan dengan catatan kaki.

Tokoh Johanne Van Der Meer digambarkan sebagai sosok wanita kuat, berambisi akan kekuasaan. Mengalahkan cinta dan bersiap diri menanggung dosa demi kekuasaan yang telah dijanjikan.

Sedangkan sosok Jayantaka adalah seorang yang lemah lembut dan berperasaan halus serta menghargai wanita yang dicintainya, yakni Johanne. Sayang keduanya tak dapat bersatu karena ambisi Johanne demi kekuasaan yang telah diimpikannya sejak dulu.

Pieter adalah sosok setia yang sangat loyal terhadap majikannya. Apapun perintah Johanne, selalu dilaksanakan dengan baik.

Dari novel ini menambah wawasan saya, bahwa saat kolonial Belanda bisnis tjandu sedang berjaya. Hampir seluruh masyarakat bahkan pejabat dicekoki tjandoe oleh Belanda. Tetapi ada juga golongan yang menentang tjandoe yang dianggap merusak bangsa, contohnya adalah Jayantaka yang dipandang sebagai pemberontak saat itu.

Selain itu juga adanya diskriminasi warna kulit, dimana orang-orang Belanda masih menganggap rendah orang-orang pribumi yang berkulit oklat.

Seperti novel-novel romansa lainnya yang berakhir happy ending, novel ini sama sekali diluar ekspektasi saya. Berharap tokohnya bersatu dan melanjutkan cintanya, namun ternyata akhirnya berakhir tragis. Oleh penulis, tokoh-tokohnya dimatikan dan berakhir tragis.
Penasaran? Silahkan baca Romansa Opium.




1 komentar

  1. Setelah membaca review ini saya jadi tertarik untuk membaca. btw buku ini memang buku baru terbitan 2025 atau buku terbitan lama yang dicetak ulang tahun 2025?

    BalasHapus