wahyusuwarsi.com

REVIEW KUMPULAN FIKSI MINI HOROR “LAWANG SEWU”

 

Lawang Sewu


IDENTITAS BUKU

Kumpulan fiksi mini horor setebal 316 halaman ini diterbitkan oleh SIP Publishing, Maret 2024. Ditulis oleh Gol A Gong dkk. Sebanyak 76 fiksi mini horor dalam buku ini menyajikan kejutan-kejutan bagi pembaca. Tentu saja beragam kisahnya sangat menegangkan.

Masyarakat sampai saat ini masih menggemari kisah-kisah mistis, kisah bertema horor dan kisah yang menampilkan hantu atau mahluk tak kasat mata. Dalam buku ini para penulis berusaha menghadirkan kejutan yang menegangkan bagi pembaca.

Menulis buku bersma Gol A Gong tentunya merupakan kebanggaan tersendiri. Kita pasti sudah tahu sosok Gol A Gong yaitu seorang sastrawan Indonesia yang dilantik sebagai Duta Baca periode 2021-2025. Beliau sudah menghasilkan banyak karya sastra dan sudah malang melintang di dunia literasi. Karya-karyanya antara lain Balada Si Roy (dimuat bersambung di majalah HAI, tahun 1981), dan kemudian diterbitkan Gramedia hingga 10 jilid dan menjadi best seller.

Gol A Gong sudah menulis 126 buku berupa novel, antologi cerpen, antologi puisi, travel writing, esai dan parenting. Beberapa karyanya juga sudah difilmkan dan disinetronkan. Hingga saat ini beliau masih aktif di dunia literasi dengan menyelenggarakan seminar literasi, mengadakan pelatihan menulis, bedah buku, mengunjungi perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat, mendistribusikan Hibah Buku Nusantara dan kegiatan-kegiatan lainnya.

SINOPSIS

Judul antologi ini adalah Lawang Sewu yang merupakan fiksi mini horor yang ditulis Gol A Gong (halaman 1). Menceritakan sebuah acara cosplay anime yang diselenggarakan di Gedung Lawang Sewu. Dalam fiksi ini digambarkan bahwa mahluk-mahluk tak kasat mata di Lawang Sewu tidak berkenan (marah) karena mereka terusik dengan keramaian tersebut. POV dalam cerita ini adalah seorang laki-laki (ayah) bersama temannya, yang keduanya sudah meninggal karena kecelakaan. Mereka sedang menyaksikan anak-anak gadisnya tampil di acara tersebut. Namun mereka tidak menyadari bahwa keduanya sudah berada di dunia lain, sehingga beberapa orang yang mereka panggil tidak melihat dan tidak mendengar suara mereka. Mereka hanya bisa memandangi anak-anak gadisnya yang sedang menangis dan berpelukan karena mendapat kabar mendadak, bahwa ayahnya menjadi korban kecelakaan. Dalam cerita ini, pembaca diajak untuk berfikir dan menebak kejutan di akhir cerita. Sama sekali tidak ada gambaran tentang hantu yang berwajah menyeramkan.

Cerita kedua (halaman 7) berjudul Bangku Kosong Misterius di Kelas yang ditulis Rahmi Nur Azizah, menceritakan bangku di kelas XII MIPA 4 yang selalu berkurang satu. Setiap hari penjaga sekolah harus memindahkan bangku dari Laboratorium Fisika ke kelas tersebut, karena bangku yang jumlahnya 36 selalu berkurang 1 pada keesokan harinya. Diceritakan bahwa ada seorang siswa yang meninggal karena wajahnya terkena taburan serbuk potassium hydroxide. Saat itu siswa kelas XII MIPA 4 tersebut sedang melakukan penelitian di laboratrium fisika. Penggambaran mahluk halus di cerita ini hanya berupa bayangan, suara-suara benda jatuh di malam hari dan beberapa siswa yang kesurupan.

Di halaman 36 fiksi horor berjudul Gol A Gong yang ditulis Giri Prastowo menceritakan bahwa mahluk halus bisa berubah bentuk menyerupai wajah dan gerak gerik seseorang (manusia). Diceritakan bahwa Devi dan Mala menginap di sebuah hotel di kota Purwokerto untuk mengikuti acara Pelatihan Penulisan Cerpen bersama Gol A Gong. Karena Mala berdandan terlalu lama, maka Devi mendahului turun ke ruang acara. Singkat cerita, Mala menyusul ke ruang acara dan saat di lorong hotel bertemu seseorang yang mirip Gol A Gong. Seseorang itu sempat bicara dengan Mala dan bergegas masuk ke kamar 302 untuk mengambil HP yang tertinggal. Sementara itu, Devi mengirimkan foto dari tempat acara dan memberitahu Mala agar segera turun karena acara akan dimulai dan pembicara (Gol A Gong) sudah tiba di tempat acara. Mala merasa penasaran dan membuka pintu kamar 302, kamar gelap dan terasa bau anyir darah. Mala ketakutan dan berlari sepanjang lorong hotel hingga tak sengaja menabrak seorang petugas hotel. Dari petugas itu diketahui bahwa kamr 302 memang dikosongkan sejak ada pembunuhan terhadap karyawan hotel. Kejutan bagi pembaca adalah, ternyata petugas hotel itu adalah hantu yang berubah wujud jadi manusia dan mempunyai wajah hancur berdarah. Cerita ini berakhir dengan kejutan yang menggambarkan bahwa hantu selalu mempunyai bentuk wajah menyeramkan dan berdarah-darah.

Halaman 56 dengan judul Suatu Sore, naskah ditulis oleh Yulia Arsiyelis, S.Si., MT menceritakan arwah seorang suami yang berpamitan pada sang istri. Diceritakan bahwa suatu sore Siti pulang dari kantor menjelang maghrib dan mendapati rumah kosong (suaminya belum pulang). Karena terlalu lelah, Siti tertidur di kursi hingga tak menyadari bahwa ada bayangan mirip suaminya sedang berada di dapur. Saat itu Siti merasa lega karena ternyata suaminya sudah pulang. Namun tiba-tiba HP-nya berdering dan melihat panggilan itu berasal dari HP suaminya. Siti segera menekan tombol angkat di layar HP-nya, namun yang terdengar bukan suara suaminya Rahmat melainkan suara orang lain. Ternyata telepon itu berasal dari kepolisian yang mengabarkan bahwa Rahmat mengalami kecelakaan.

Cerita berjudul Tambal Ban (halaman 250) yang ditulis oleh Galang Suhastra menceritakan seseorang yang telah meninggal namun belum merasa tenang di alamnya. Dia merasa bersalah karena meninggalkan istri dan anaknya dalam penderitaan, yaitu menjadi tukang tambal ban sepeninggalnya. Melepas kerinduan pada anak dan istrinya, dia menyamar sebagai pengendara motor yang seringkali bocor ban motornya. Menanti ban motor jadi, sambil menemani gadis kecilnya dan memandangi wajah istrinya yang manis. Cerita ini menggambarkan betapa kerinduan seorang ayah (yang sudah meninggal) pada anak dan istrinya, yang ada di dunia.

Halaman 270 yaitu cerita berjudul Kenalkan, Saya Suster Myra yang ditulis Uniek Kaswarganti menceritakan tentang sosok suster kesot. Disebut demikian karena berjalannya ngesot. Dan cerita tentang suster kesot ini selalu ada di sekolah-sekolah bangunan Belanda. Biasanya di sekolah negeri jaman dulu, misalnya SMA 1, SMA 3 di Semarang.

Cerita berawal ketika Andi disuruh oleh guru meletakkan lukisan di ruang seni rupa sekolah itu. Sebenarnya Andi merasa malas masuk ke ruang seni rupa yang dianggapnya seram, namun terpaksa tugas itu dilaksanakan juga. Sampai di ruang seni rupa, Andi merasa lega karena ada seorang siswi wanita yang juga sedang ada disana dan badannya tertutup pintu lemari yang terbuka. Andi memberanikan diri menyapa dan berkenalan. Namun, betapa terkejutnya dia setelah sosok wanita berseragam rumah sakit itu berjalan mengesot dan mengenalkan diri sebagai suster Myra. Andi pingsan dan tak ingat apa-apa lagi.

KESAN SETELAH MEMBACA BUKU INI

Membaca buku ini rasanya tegang terus dan penginnya segera tuntas baca hingga tamat. Saya membaca buku ini memerlukan waktu 2 hari untuk menyelesaikannya, karena memang isinya padat (76 fiksi). Dalam review ini tidak semua fiksi saya tulis disini.

Fiksi dalam antologi ini semuanya menarik dan penuh dengan kejutan bagi pembaca. Ada kejutan yang bisa ditebak dengan mudah, namun ada beberapa fiksi dengan kejutan yang sulit ditebak yaitu pembaca diajak berfikir kritis tentang akhir cerita.

Menurut saya, penggambaran tokoh hantu sebagian besar masih menggunakan gambaran hantu-hantu jaman dulu. Maksud saya adalah, sebagian besar hantu-hantu masih digambarkn sebagai mahluk berambut panjang, berbaju putih panjang dan terbang, mukanya peyot dan menyeramkan, matanya melotot, gigi bertaring dan mukanya berdarah-darah. Sebagai pembaca saya ikut larut di dalamnya dan membayangkan kejadian dalam fiksi-fiksi tersebut, sehingga rasanya merinding juga. Para penulis di antologi ini berhasil membawa pembaca masuk ke dalam fiksinya. Kalau menurut pendapat saya, buku ini keren dan menarik, ceritanya membuat penasaran bagi pembaca. Semoga review buku ini bermanfaat.

‹ Lebih lamaTerbaru ✓

Posting Komentar