wahyusuwarsi.com

MUSEUM KOTA LAMA: MENYUSURI SEJARAH KOTA SEMARANG

Museum Kota Lama Semarang


Beberapa waktu lalu saya berkesempatan berkunjung ke Museum Kota lama bersama seorang teman. Sebenarnya Museum Kota Lama sudah dibuka sejak tanggal 5 Maret 2022, namun baru kali ini saya berkunjung kesana. Lokasinya ada di air mancur bundaran Bubakan yakni di jalan Cendrawasih No 1 A, Purwodinatan, Semarang. Museum ini dibangun di atas situs eks depo lokomotif stasiun Jurnatan yang diketemukan tahun2018.

Bangunan bergaya arsitek dengan dinding dari batu bata tampak sangat artistik berdiri di tengah kota. Di tengah bangunan tersebut atau tepat di depan museum terdapat seperti monumen berbentuk mata panah karya Yani M. Sastranegara setinggi 650 cm. Dibawahnya terdapat kolam yang dihubungkan dengan jembatan kaca. Sayang sekali saat saya berkunjung kesana, kolam terlihat kotor penuh lumut dan kosong tanpa ada air didalamnya.

Untuk datang kesini bisa langsung membeli tiket maupun mendaftar online melalui aplikasi Konco Dolan. Harga tiket 10K per orang. Jam buka mulai 09.00 WIB hingga 15.30 WIB dibagi dalam beberapa sesi (tiap sesi 30 menit). Teknologi yang ditampilkan adalah teknologi immersive dengan layar 3D.

Masuk ke ruang pertama, pengunjung dipersilahkan melepas alas kaki dan menyimpannya di loker yang telah tersedia.

SUNGAI SUNGAI DALAM SEJARAH BERDIRINYA SEMARANG

Ruang lobby dengan replika perahu
replika-perahu-di-ruang-lobby
(Gambar: koleksi pribadi)

Pengunjung diajak menyaksikan tayangan visual 3D di ruang lobby yang menyajikan awal mula sejarah kondisi Semarang sebelum adanya pembangunan benteng kolonial. Melalui tayangan itu pengunjung seolah-olah diajak naik perahu mengelilingi sungai-sungai pada zaman kolonial yang menjadi awal mula berdirinya kota Semarang. Disini juga terdapat replika perahu, dan pengunjung dipersilahkan bila ingin foto disini.

Nama-nama sungai di Semarang yang berhubungan dengan berdirinya kota Semarang adalah kali Semarang, kali Garang, kali Kanal Timur (Banjir Kanal Timur), sungai Sringin, sungai Plumbon, sungai Karanganyar, sungai Bringin, sungai Cilandak dan sungai Siangker.

Dilansir dari netralnews.com, kali Semarang merupakan salah satu faktor perkembangan Semarang, dengan panjang kurang lebih 8,25 km. Di sepanjang kali Semarang terdapat pemukiman etnis yakni Kampung Melayu, Kampung Pecinan, Kampung Kauman, Kampung Sekayu dan pemukiman Eropa (yang sekarang menjadi Kota Lama).

Pada tahun 1820-an Semarang berkembang menjadi pelabuhan dalam perdagangan internasional, dan merupakan kota pelabuhan terbesar ketiga setelah Batavia dan Surabaya di pantai utara Jawa.

Oleh pemerintah kolonial, kali Semarang (disebut Kali Baru) dikeruk untuk dijadikan transportasi bagi masyarakat dan juga untuk mengangkut barang-barang ke pelabuhan.

RUANG IMMERSIVE AUDIOVISUAL

Visual di ruang immmersive
visual-kereta-api-di-ruang-immersive
(Gambar: koleksi pribadi)

Dari ruangan pertama, pengunjung diajak menuju ruang kedua (ruang immersive 3D). Disini seolah-olah pengunjung diajak menyusuri kota Semarang di zaman kolonial dengan menggunakan kereta (trem), sepanjang jalan dan berakhir di stasiun Jurnatan (SJS).

Tampak pada ke-4 sisi dinding, audiovisual yang menggambarkan kondisi Semarang pada saat itu (kolonial). Bangunan-bangunan arsitektur Eropa sepanjang jalan (dari jalan Pemuda hingga kawasan kota lama). Bagus sekali visualisasinya. Sayangnya guide tidak ikut masuk ke ruangan. Pengunjung menikmati film yang diputar beserta penjelasannya.

Dari total.wixsite.com, terbentuknya Semarang dirintis oleh Ki Ageng Pandan Arang. Beliau adalah putra Pangeran Sabrang Lor (Pati Unus) yang dikenal sebagai Sultan Demak ke-3.

Pada tahun 1476 Ki Ageng Pandan Arang beserta putranya Pangeran Kasepuhan meninggalkan Demak menuju arah barat daya hingga sampai di sebuah wilayah Semarang yang subur yakni Pulo (pulau) Tirang. Di tempat itu tumbuh pohon asam (asem) yang tumbuh secara jarang. Fenomena tersebut kemudian pulau Tirang disebut Semarang.

Beliau tinggal di lokasi tersebut dan mendirikan pusat perguruan agama Islam, dengan misi Islamisasi penduduk yang beragama Hindu dan Buddha.

Proses pembentukan administratif dilakukan pada tanggal 2 Mei 1547, diberikan oleh Sultan Demak kepada Ki Ageng Pandan Arang II setelah Ki Ageng Pandan Arang I wafat. Tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari jadi kota Semarang dan Ki Ageng Pandan Arang II sebagai Bupati Semarang I.

Di ruang immersive ini juga dijelaskan terjadinya Geger Pecinan tahun 1740-1750. Peristiwa ini terjadi atas respon pembantaian masyarakat Tionghoa di Batavia. Semarang dan beberapa pos penting VOC termasuk Benteng Vijfhoek dan Pemukiman Europeese Buurt di Semarang dikepung oleh Laskar Tionghoa yang dipimpin oleh Soen Ong Ing atau disebut Sunan Kuning.

RUANG PAMER SEJARAH SEMARANG

Ruang linimasa di Museum Kota Lama
ruang-linimasa-museum-kota-lama
(Gambar: koleksi pribadi)

Sebelum ke ruangan ini, pengunjung diajak ke ruang linimasa, yang berisi foto-foto yang dipajang di dinding memanjang. Beberapa artefak yang ditemukan juga ada di kotak kaca yang dipasang di dinding. Foto-foto berisi sejarah berdirinya kota Semarang mulai tahun 1847.

Ruang pamer sejarah Semarang adalah ruang ke-4 yang terdapat hologram Warak Ngendhog, foto Arca Menjusri Simongan, benda-benda kuno atau artefak yang ditemukan, serta sejarah Benteng Kota.

WARAK NGENDHOG

replika-warak-ngendhog
(Gambar: koleksi pribadi)

Pada pigura kaca di dinding terdapat replika patung warak ngendhog. Warak Ngendhog mulai dikenal sekitar tahun 1881-1897, diperkenalkan masyarakat Semarang sebagai karya budaya sekitar tahun 1936. Masyarakat Semarang pertama kali memperkenalkan kesenian warak untuk menyambut ulang tahun ke-100 Ratu Wilhelmina. Ikon warak ngendhog berhubungan dengan tradisi dugderan untuk menyambut bulan ramadhan, dilaksanakan setahun sekali.

Warak (bahasa Arab) artinya suci. Ngendhog (bahasa Jawa) artinya bertelur. Hewan warak merupakan simbol nafsu yang harus ditaklukkan dengan berpuasa, sedangkan telur diibaratkan sebagai pahala yang didapat setelah puasa.

Penggambaran hewan dituangkan dengan menggabungkan 3 hewan menjadi satu yang disebut Warak. Kepala naga (Cina), badan unta (Arab) dan kaki kambing (Jawa).

ARCA MANJUSRI SIMONGAN

Ditemukan oleh seorang petani di wilayah kelurahan Ngemplak Simongan, kecamatan Semarang Barat bulan Oktober 1927. Arca terbuat dari perak dan diperkirakan berasal dari abad ke-10 Masehi.

Temuan arca di Simongan sebagai gambaran tentang terjalinnya interaksi kebudayaan antara penduduk lokal dengan bangsa lain pada masa Hindu Budha di Semarang.

ARTEFAK YANG DITEMUKAN

Fragmen botol yang ditemukan
artefak-fragmen-botol
(Gambar: koleksi pribadi)

Beberapa artefak yang ditemukan adalah wadah pena dan tinta, kotak penyimpanan uang, fragmen botol (keramik Eropa), insulator listrik berbahan keramik, Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) pertama di Hindia-Belanda.

FASE-FASE BENTENG DI SEMARANG

Perkembangan kota lama Semarang dibagi menjadi 3 fase pembabakan yakni:
  • Fase I, masa pra benteng kota (1677-1741).
  • Fase II, masa ketika kota dilengkapi dengan benteng (1756-1824).
  • Fase III, masa setelah Benteng Kota dihancurkan terkait pengembangan kota modern oleh pemerintah Belanda (1824-1866)

TRANSISI KE BENTENG KOTA

Benteng yang mengelilingi kota lama merupakan perkembangan dari Benteng de Vijfhoek van Samarangh tahun 1695.

Benteng kota dilengkapi beberapa komponen dan struktur yakni, 3 buah gerbang (port) besar, 2 buah gerbang kecil, 6 buah pos penjagaan (bastion), beberapa bagian sisa kanal keliling benteng kota dan jaringan jalan di dalam lingkungan benteng kota.

Tahun 1826 benteng kota dihancurkan oleh pemerintah Belanda untuk mengembangkan kota Semarang sebagai kota modern. Pengembangan dilakukan dengan membuka jaringan kereta api, vila-vila di jalan Bojong dan jalan Randusari, jalan-jalan baru dan membuka terusan pelabuhan (diberi nama Kali Baru) agar kapal-kapal kecil dapat berlabuh di Jembatan Berok. Kemudian dibangun Benteng Prins van Oranje di wilayah Semarang Barat yang disebut Benteng Pendem.

PERMUKIMAN SEKITAR BENTENG

Kegiatan perdagangan diramaikan oleh pedagang dari berbagai etnis. Karena masih dipengaruhi musim, maka mereka membutuhkan waktu cukup lama tinggal di Semarang. Tahun 1800-an terdapat permukiman beragam etnis di sekitar benteng yaktu Kampung Pecinan, Kampung Pedamaran, Kampung Melayu, Pekojan, Kampung Bugis.

RUANG PASCA BENTENG

Eks depo lokomotif
situs-eks-depo-lokomotif
(Gambar: koleksi pribadi)

Di ruangan ini terdapat situs bekas depo lokomotif stasiun Jurnatan yang ditemukan tahun 2018 dan dibuka kembali tahun 2020. Temuan itu ada di bagian bawah lantai museum. Agar pengunjung dapat melihat situs ini yang ada di bagian bawah, maka pada bagian lantai atas diberi kaca. Bisa dibaca pada artikel saya disini (159 tahun perkeretaapian Indonesia).

Di ruangan ini juga terdapat artefak-artefak yang ditemukan saat penggalian di wilayah tersebut, antara lain adalah fragmen keramik Qing, fragmen tulang, tembikar, keramik vas/mangkok, botol kaca dan batu bata atau balok beton yang diduga merupakan bagian depo lokomotif stasiun SJS.

Artefak tulang
artefak-tulang-yang-ditemukan
(Gambar: koleksi pribadi)

Pada ruangan lain terdapat replika lokomotif trem uap dan juga beberapa artefak yang ditemukan. Pengunjung diperbolehkan naik ke atas lokomotif untuk berfoto.

Lokomotif trem uap
replika-lokomotif-trem-uap
(Gambar: koleksi pribadi)

PENUTUP

Mengunjungi Museum Kota Lama membuka wawasan saya tentang sejarah berdirinya Semarang dan sejarah awal mula adanya kereta api di Semarang. Mari kita melestarikan sejarah dan kebudayaan Indonesia sebagai warisan generasi muda dan anak cucu kita kelak. Semoga bermanfaat.

Referensi:
https://www.netralnews.com/nncsingkapsejarah/kali-semarang-dalam-perspektif-sejarah
http://madosijateng.com/new/detail/Xmakqg%3D%3D
Museum Kota Lama Semarang
‹ Lebih lamaTerbaru ✓

Posting Komentar