wahyusuwarsi.com

MEMPERINGATI 159 TAHUN LAHIRNYA PERKERETAAPIAN DI INDONESIA


Narasumber Ibu Ratri

Mengenang 159 tahun lahirnya perkeretaapian di Indonesia tanggal 30 Agustus 1926 dilaksanakan diskusi publik di rumah PoHan Jl Kepodang Semarang. Acara yang diselenggarakan oleh IRPS (Indonesia Railway Preservation Society), Alliance Francaise Semarang beserta rumah PoHan dihadiri kurang lebih 100 pengunjung dari berbagai kalangan masyarakat (Guru, mahasiswa, dosen dan umum). Dalam acara tersebut menghadirkan narasumber Bapak Tjahjono Rahardjo seorang pemerhati sejarah dari IRPS dan Ibu Ratri Septina Saraswati dosen arsitek UPGRIS Semarang.

Dalam kesempatan itu juga digelar pameran sejarah perkeretaapian di Indonesia. Menampilkan dokumen berupa benda pos (perangko, sampul hari pertama) yang berhubungan dengan kereta api, buku tentang kereta api, foto-foto sejarah kereta api dan stasiun serta benda-benda yang berhubungan dengan kereta api. Kemudian dilanjutkan pemutaran film dokumenter tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Benda pos di pameran perkeretaapian
benda-pos-dalam-pameran-perkeretaapian
(Gambar: koleksi pribadi)

Lampu depan KA
lampu-depan-kereta-api
(Gambar: koleksi pribadi)

LAHIRNYA KERETA API BERAWAL DI SEMARANG

Gambar stasiun dan tiket kereta api
stasiun-tanggoeng-dan-tiket-kereta-api
(Gambar: narasumber bp Tjahjono)

Narasumber bapak Tjahjono Rahardjo menjelaskan tentang awal lahirnya kereta api di Indonesia. Kelahiran kereta api berawal ketika Belanda mengalami kebangkrutan pada saat perang Napoleon (1803-1815), perang Jawa/Diponegoro (1825-1830) dan Perang Kemerdekaan Belgia (1830). Hal ini menyebabkan kas Belanda kosong dan menanggung hutang yang besar, sehingga harus mencari dana.

Pada saat itulah muncul ide tanam paksa (cultuurstelsel) oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch. Sistem tanam paksa ini mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian lahannya untuk ditanami komoditas ekspor (kopi, teh, tebu, nila). Tanam paksa berlangsung dari tahun 1830-1870.

Di daerah Grobogan merupakan salah satu daerah yang terdampak tanam paksa. Grobogan dijadikan area tanam paksa untuk komoditas ekspor khususnya tembakau.

Setelah itu sistem tanam paksa digantikan sistem ekonomi liberal yang pada saat itu perkebunan modal swasta berkembang pesat. Di Jawa Tengah pemodal swasta menyewa tanah lungguh (apanage) milik para bangsawan untuk membuka perkebunan.

Namun kemudian timbul masalah untuk mengangkut hasil perkebunan dari pedalaman menuju pelabuhan yang membutuhkan sarana transportasi memadai.

Pada tanggal 17 Juni 1864 mulai dibangun jalur rel kereta api antara Semarang dan praja kejawen (vorstenlanden/tanah kerajaan) oleh perusahaan swasta yang mendapat konsesi dari pemerintah kolonial yakni Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Dan pada tahun 1867 (setelah 3 tahun) pembangunan baru mencapai Tanggoeng (Tanggung, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan), sekitar 25 kilometer dari Semarang. Hal ini disebabkan karena terjadi kesulitan finansial dan teknis. Dan tanggal 10 Agustus 1867 ditetapkan sebagai hari lahirnya perkeretaapian di Indonesia, dimana saat itu KA pertama beroperasi dari Semarang ke Tanggung.

Seluruh lintasan sepanjang 205 kilometer Semarang-Solo-Yogya (termasuk lintasan cabang Kedungjati-Ambarawa) baru bisa diselesaikan pada tahun 1873.

Jalur-jalur kereta api di Semarang dilayani perusahaan kereta api swasta dan masing-masing punya stasiun sendiri yakni:
  • NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij) stasiun Semarang di daerah Spoorland yang kini sudah menjadi perkampungan penduduk.
  • SJS (Samarang Joana Stoomtram Maatschappij) untuk jalur Semarang ke pantura timur sampai ke daerah Demak, Kudus, Pati, Juana dan Rembang. Stasiunnya ada di Jurnatan (saat ini situsnya ada di Museum Kota Lama).
  • SCS (Samarang Cheribon Stoomtram Maatschappij) melayani jalur Semarang, Pekalongan, Tegal sampai Cirebon. Stasiunnya ada di daerah Pindrikan.
NIS juga membangun kantor pusat di Semarang yang dirancang oleh JF Klinkhamer dan BJ Ouendag. Bangunan itu adalah Lawang Sewu yang menjadi cagar budaya di Semarang.

TILIK STASIUN-STASIUN DI JALUR PERTAMA DI INDONESIA (HINDIA BELANDA)

Narasumber ibu Ratri Septina
narasumber-ibu-ratri-septina
(Gambar: koleksi pribadi)

Pada sesi kedua ibu Ratri menjelaskan tentang bangunan-bangunan stasiun dan jalur kereta api pada masa itu. Lahan yang digunakan untuk membangun jalur awal kereta api tersebut berupa rawa-rawa, letaknya di Semarang bagian utara.

Dilansir dari sumber rijksmuseum.nl luas areal kawasan Stasiun Samarang NIS adalah sekitar 3,3 hektare. Proses pembangunan dimulai sejak pertengahan Maret 1864. Diawali dengan pembuatan railbed dari lokasi stasiun ke pelabuhan Kalibaru dan juga pembuatan kanal yang terhubung ke pelabuhan Kalibaru. Tujuan pembuatan kanal adalah untuk menurunkan barang-barang yang diperlukan dalam proses pembuatan stasiun Semarang dan jalur kereta Semarang-Kedungjati. Karena lokasi stasiun berupa tambak maka dilakukan penimbunan tanah yang dimulai 25 Mei 1864. Tanah-tanah tersebut berasal dari berbagai tempat dan diangkut ke lokasi menggunakan perahu-perahu kecil. Tanah liat di sekitar stasiun kualitasnya baik untuk batu bata, maka didirikan tempat percetakan dan pembakaran batu bata serta gudang pengeringan. Di saat yang sama juga dibuat bengkel kayu sebagai tempat pembuatan material bangunan yang terbuat dari kayu. Ada sekitar 600 pekerja, 4 mandor dan 50-70 tukang kayu.

Saat ini bangunan bekas stasiun telah menjadi bangunan hunian penduduk, bahkan ada yang rusak karena tergenang air pasang (rob). Sebagian bahkan sudah tidak berpenghuni karena ditinggalkan pemiliknya akibat rob.

Dikatakan oleh ibu Ratri bahwa kawasan stasiun NIS yang sudah menjadi perkampungan itu merupakan kawasan yang cukup luas. Tak sekadar untuk jalur kereta api, disana juga terdapat kantor, rumah telegram, tempat pemberangkatan penumpang, penurunan barang, rumah sinyal, alat untuk memutar lokomotif dan rumah dinas kepala stasiun.

Dalam kesempatan itu juga ditampilkan berbagai foto-foto lama stasiun, antara lain stasiun Alas Tuwa, Poncol, Tanggung, Kedungjati dan Tawang (baru).

Ditampilkan juga rumah-rumah penduduk yang masih terdapat sisa-sisa bangunan stasiun Samarang NIS. Hal ini tampak dari foto-foto tersebut adanya lubang angin, dinding dari batu bata, kolom besi padat berbentuk silinder yang berfungsi sebagai penyangga atap peron, besi tem berbentuk busur (konsol atap).


Sisa bangunan stasiun NIS Samarang
sisa-bangunan-stasiun-NIS-digunakan-pemukiman
(Gambar: dari narasumber ibu Ratri)


Stasiun Tawang dirancang oleh arsitek Belanda Sloth-Blauwboer, diresmikan 1 Juni 1914. Tahun 1911 peletakan batu pertama dilakukan oleh Anna Wilhelmina van Lennep putri Kepala Teknisi NISM.

Pemindahan kantor administrasi dilakukan dari Stasiun N Samarang ke Lawang Sewu. Kantor pusat NISM ini dibangun pada 27 Pebruari 1904 dan berhasil dirampungkan pada Juli 1907. Bangunan didesain oleh arsitek Belanda Prof. Klinkhamer, BJ Oendaag.

PENUTUP

Dengan dilaksanakannya diskusi publik seperti ini membuka wawasan kita tentang sejarah bangsa Indonesia, tak hanya tentang perkeretaapian saja. Adanya diskusi ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang kereta api di Indonesia, kapan lahirnya kereta api di Indonesia, awal mula kereta api di Indonesia dan banyak lagi hal lain yang berhubungan dengan sejarah kereta api di Indonesia. Semoga bermanfaat.





‹ Lebih lamaTerbaru ✓

Posting Komentar