“Untuk mereka yang tetap percaya tidak setiap hal bisa dibeli.”
SINOPSIS
86 dalam novel ini artinya cincai, tahu sama tahu, pokoknya beres. Novel ini menceritakan seorang gadis berasal dari kampung bernama Arimbi, yang bekerja di Pengadilan Negeri di kota. Di Pengadilan Negeri, Arimbi bekerja sebagai juru ketik. Mengetik kembali putusan-putusan yang telah dibacakan hakim.Gadis ini berasal dari keluarga petani, yang tentunya sangat bangga dengan prestasi yang dicapai Arimbi sebagai pegawai negeri. Pegawai Pengadilan yang tiap bulan mendapat gaji, dengan seragam kebanggaan dan mendapat pensiun di hari tua nanti. Hal yang sangat dibanggakan bapak ibunya pada setiap orang. Kedua orang tuanya memupuk banyak harapan pada Arimbi.
Padahal kondisinya di kota tidak seperti yang dibayangkan kedua orangtuanya. Arimbi menempati sebuah tempat tinggal di daerah kumuh, berada di sebuah gang sempit dengan penduduk yang kondisi ekonominya di bawah standar. Menyewa sebuah kontrakan kecil yang sangat sederhana milik pak Ahmad. Gajinya habis di tengah bulan setelah dikurangi untuk membayar kontrakan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Suatu hari terjadi kebakaran di daerah tempat Arimbi kontrak. Pemilik kontrakan (Pak Ahmad) memiliki beberapa kontrakan yang disewakan dan sebuah rumah untuk tinggal bersama keluarganya. Tetapi nasibnya sungguh malang, beberapa kontrakan dan rumahnya ikut terbakar dalam peristiwa itu. Pak Ahmad bermaksud tinggal di rumah yang sekarang ditempati Arimbi, maka dengan terpaksa Arimbi pindah dari tempat itu.
Mencari kost dengan harga terjangkau dan dekat kantor, ternyata tak semudah yang dibayangkan. Namun akhirnya dia menemukan kostan yang dekat kantor, dengan harga agak mahal tapi tempatnya nyaman. Disinilah Arimbi berkenalan dengan Ananta yang kelak menjadi suaminya.
Setelah menikah, mereka menyewa satu kamar di tempat tersebut agar lebih irit. Ananta pindah ke kamar kost Arimbi. Ananta bekerja sebagai analyst kredit dan penagih pada sebuah perusahaan leasing motor. Tugasnya berkeliling mencari orang-orang yang hendak kredit motor, dan menagih cicilan mereka setiap bulannya. Kehidupan keluarga baru ini pun tidak bisa dikatakan lebih dari cukup. Mereka hidup pas-pasan, bahkan kadang kekurangan.
Dari sikap lugu dan tidak tahu. Arimbi yang awalnya bekerja dengan tekun dan jujur, akhirnya terbujuk untuk mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Anisa teman seangkatan satu kantornya, saat ini telah memiliki rumah, mobil, motor dan hidup berkecukupan. Dari manakah semua itu? Arimbi akhirnya tahu bahwa Anisa sering mendapat tips dari pengacara-pengacara yang minta tolong padanya.
Arimbi mengikuti jejak Anisa, dari surat-surat putusan yang diketiknya Arimbi mendapat komisi dari pengacara-pengacara yang minta tolong padanya. Awalnya hanya berkisar 200.000 saja, namun jumlah itu semakin meningkat tergantung besarnya pekerjaan yang diberikan padanya. Uang itu dikumpulkan sedikit demi sedikit sehingga bisa mengirimkannya ke kampung.
Arimbi mempunyai seorang atasan yang baik, bu Danti, hingga Arimbi jadi orang kepercayaannya. Suatu hari bu Danti meminta Arimbi bertransaksi dengan pengacara kasus korupsi di sebuah rumah makan. Arimbi hanya sebagai orang suruhan bu Danti dan tak tahu menahu soal uang 2,5 miliar dalam transaksi itu. Mereka menitipkan koper berisi uang 2,5 miliar kepada Arimbi untuk diserahkan kepada bu Danti. Namun Arimbi merasa aneh, seolah-olah banyak mata yang mengikutinya. Arimbi pulang ke rumah bu Danti untuk menyerahkan koper itu.
Saat berada di rumah Bu Danti, terjadi penggeledahan dan penangkapan oleh KPK. Sebelumnya, Arimbi menyimpan uang 50 juta ke dalam ranselnya (uang itu adalah bonus dari bu Danti). Atas dasar itulah bu Danti dan Arimbi dituduh menerima suap, karenanya mereka dijebloskan ke penjara. Arimbi dijatuhi masa hukuman 4 tahun penjara.
Selama di penjara, Arimbi berteman dekat dengan Tutik seorang narapidana satu sel. Dari Tutik inilah dia dikenalkan dengan cik Aling seorang bandar narkoba. Walaupun hidup di penjara tetapi cik Aling tetap bisa menjalankan bisnis narkoba. Bahkan merekrut beberapa napi lain untuk membantu menimbang barang haram tersebut. Para sipir penjara ternyata juga banyak yang bekerja sama dengannya. 86, cincai, pokoknya beres. Begitupun Arimbi juga direkrut untuk membantu usaha cik Aling.
Arimbi menerima tawaran itu karena ibunya di kampung sakit dan harus cuci darah seminggu sekali, membutuhkan biaya 1 juta per minggu. Tak hanya Arimbi, bahkan Ananta pun ditawari untuk menjadi kurir pengantar sabu ke pelanggan-pelanggan cik Aling. Bahkan Ananta berani mengantar sabu ke kota-kota besar lainnya, tentunya dengan bonus yang lebih besar. Semakin lama menjadi terbiasa dengan tugasnya, karena Ananta selalu pulang dengan aman dengan membawa bonus besar. Sementara Arimbi ada di penjara, Ananta bekerja untuk cik Aling di luar penjara. Kehidupan mereka pun membaik.
Dua tahun kemudian Arimbi bebas setelah mendapat remisi. Mereka menjalani kehidupan normal sebagai pasangan suami istri hingga kemudian Arimbi hamil. Ananta masih bekerja pada cik Aling sebagai kurir sabu, dan juga sebagai surveyor kredit motor.
Demi kenyamanan sang bayi, mereka ingin memiliki rumah sendiri. Namun tabungan mereka belum cukup untuk membayar DP rumah sebesar 45 juta. Sementara itu Arimbi membuka warung sembako di rumah sebagai sambilan. Arimbi ingin Ananta berhenti bekerja sebagai kurir sabu. Dia tak ingin anaknya makan dari uang haram. Namun selama uang tabungan belum cukup, Ananta takkan berhenti bekerja pada cik Aling.
Ananta menerima tawaran mengantar sabu ke luar kota, bahkan saat itu dikirim ke 3 lokasi sekaligus yang jaraknya berjauhan. Tapi apa yang terjadi? Hari itu bukan hari keberuntungan bagi Ananta. Dia tertangkap polisi yang telah lama mengincarnya. Lalu bagaimana nasib Arimbi dan anaknya?
KRITIK TAJAM TERHADAP HUKUM DAN PERADILAN
Sebuah cerita novel tentang kejadian sosial di masyarakat yang awalnya dianggap tabu. namun saat ini dianggap suatu hal yang biasa dan wajar. Asalkan ada uang atau pelicin, semua beres, yang penting 86! Novel ini mengkritik isu yang terjadi di dunia peradilan.Arimbi pegawai yang lugu dan jujur, akhirnya terbawa arus lingkungannya, dan menghalalkan cara mendapatkan uang dengan mudah.
Melalui novel ini penulis mengungkap banyaknya kasus suap, korupsi, narkoba yang terjadi dimanapun, dan penyimpangan seksual yang terjadi di dalam penjara. Mulai dari lingkungan kantor Arimbi yang menerima suap dari pengacara-pengacara, sipir penjara yang dapat disuap saat jam bezuk, hingga transaksi sabu di dalam penjara yang berjalan lancar karena adanya suap-menyuap pada sipir. Asalkan ada uang, pasti semua beres, cincai, 86. Menggambarkan keserakahan manusia demi materi (harta), dengan cara yang salah (tidak halal) namun dianggap sebagai sesuatu yang wajar di masyarakat.
Kasus suap menyuap ini seolah sudah mendarah daging, tak pandang bulu dari pejabat bahkan pegawai rendahan pun sudah terlibat kasus-kasus seperti ini. Yang penting punya duit, pasti semua beres.
“Tak ada yang tak benar, kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan, kalau semua orang sudah menganggap sebagai kewajaran. Pokoknya, 86!”


Posting Komentar