Buku yang ditulis Artie Ahmad ini diterbitkan oleh penerbit Marjin Kiri, Juni 2025. Tebalnya 219 halaman dan saya hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk menuntaskannya.
Dengan cover ungu muda bergambar seorang wanita berkebaya sedang duduk disebuah kursi. Inilah gambaran wanita Jawa di zaman kolonial Belanda. Buku ini mengisahkan perjuangan seorang wanita Inlander (Ibu berdarah Jawa, dan ayah berdarah Belanda). Mereka hidup tanpa pernikahan yang sah hingga melahirkan seorang anak. Wanita-wanita Jawa yang diperistri orang-orang Belanda sering disebut Gundik.
SINOPSIS
Novel hisfic yg menggambarkan kesengsaraan dan ketidakadilan pada wanita di zaman kolonial.Elisabeth Van Kirk, anak Isaak Van Kirk dari seorang gundik nya, ditemukan di bantaran sungai dalam kondisi pingsan. Elizabeth sengaja dimusnahkan oleh Theodora istri sah tuan Van Kirk karena cemburu. Sedangkan ibunya merasa tertekan sehingga gantung diri dan meninggal.
Pada zaman kolonial, banyak orang Belanda yang mempunyai gundik wanita Jawa (biasa disebut Nyai) hingga mereka melahirkan. Tetapi statusnya hanya sebagai gundik dan babu (pembantu), karena tidak dinikahi secara sah.
Elisabeth ditemukan oleh Bondan seorang pemuda desa, kemudian dirawat oleh mak Miat. Elisabeth tidak suka darah Belanda yang mengalir di tubuhnya, dia tidak suka jadi keturunan inlander, karenanya oleh mak Miat namanya diganti menjadi Moerni biar lebih njawani. Dia sengaja menghilangkan identitas nonik Belanda dan lebih memilih identitas yang njawani.
Konflik mulai berdatangan, Moerni dirudapaksa oleh Bondan hingga melahirkan seorang bayi, yang diberi nama Goentoer. Namun tiga bulan kemudian bayinya meninggal, karena demam tinggi dan kejang-kejang. Disusul dengan kematian mak Miat yang tiba-tiba, saat sedang tertidur di atas amben.
Karena kondisi ekonomi, Moerni menerima tawaran pekerjaan dari Juragan Tomblok sebagai gowok hingga mempertemukannya dengan Martomo. Gowok dilatih untuk membantu para pemuda dalam mempersiapkan diri memasuki dunia pernikahan. Martono menyukai Moerni dan mengajak hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, sampai dia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Rahajeng.
Tetapi Hayoe istri sah Martomo yang mandul mengambil Rahajeng yang masih berusia setahun, dan membawanya ke Belanda bersama Martomo.
Gowok mempunyai cantrik (murid) yang biasanya adalah anak-anak priyayi, lurah, bupati atau wedana. Mereka menyewa gowok untuk melatih anak laki-lakinya agar tidak memalukan saat menikah nanti.
Suatu saat Moerni bertemu dengan Ndoro Poerboningrat, yang menganggapnya sebagai anak. Beliau menawarkan Moerni untuk berganti nama menjadi Nyi Sadikem. Sadikem adalah wanita yang menjadi pengasuh (pamong) Ndoro Poerboningrat. Moerni memutuskan mengambil nama Sadikem karena semasa hidup, Sadikem adalah wanita hebat dan menakjubkan, walaupun dilahirkan dalam kondisi bisu tuli.
Sadikem dirudapaksa oleh 3 teman masa kecilnya dan membalas dendam pada salah satunya, dengan menebas lehernya hingga mati. Selepas mendekam di jeruji besi, Sadikem menjadi penganyam pandan hingga kemudian bertemu seorang juragan kaya. Yang menawarinya menjadi pamong untuk putranya, yakni Poerboningrat.
Singkat cerita, Damar anak ndoro Poerboningrat jatuh cinta pada Nyi Sadikem, melamarnya namun selalu ditolak. Pada lamaran yg ke-100, akankah Nyi Sadikem menerima lamaran Damar?
Dia tak ingin benar-benar berbagi hati, terlebih kepada seorang lelaki. Perempuan seperti dirinya, tak diperuntukkan untuk dimiliki seorang lelaki (hal 219).
KESAN MEMBACA BUKU INI
Alur dan bahasa buku ini mudah diikuti serta dimengerti oleh pembaca. Buku dengan genre hisfic (historial fiksi) ini membuka wawasan saya tentang adanya tradisi gowok pada zaman kolonial. Gowok merupakan wanita yang mengajar para pemuda mempersiapkan diri memasuki dunia pernikahan.Seperti kita ketahui, di zaman kolonial seorang wanita tidak bermartabat dan tidak mpunya harga diri. Mereka tidak punya hak apapun, bahkan untuk membela diri. Menjadi komoditas diperjual belikan bagi tuan tanah dan orang-orang kaya, bahkan menjadi gundik seorang Belanda. Tidak terikat dalam pernikahan yang sah, hanya menjadi budak pemuas nafsu bagi tuan-tuan Belanda, hingga melahirkan anak pun mereka tidak punya hak apa-apa. Mereka hanya dijadikan pemuas nafsu dan babu bagi orang-orang Belanda tersebut.
Nyi Sadikem sebagai gowok merupakan sosok wanita yang kuat bertahan hidup. Membela wanita-wanita muda agar tidak dijadikan gundik oleh meneer Belanda. Nyi Sadikem bertindak sebagai dwija (guru) bagi wanita-wanita muda dan memberikan mereka pekerjaan, sebagai gowok.
Mungkin di era saat ini pekerjaan sebagai gowok dilarang atau merupakan pekerjaan tidak halal (mirip prostitusi terselubung). Tetapi zaman kolonial, gowok lebih dikenal di kalangan pejabat atau orang-orang berpangkat yang menitipkan anaknya yang telah dewasa, untuk belajar menjadi "lelananging jagad" sebelum menikah.
Dari buku ini saya berpendapat bahwa Nyi Sadikem adalah wanita yang tangguh bertahan hidup. Dia benar-benar profesional dengan pekerjaannya, tidak mau jatuh cinta terhadap cantriknya (muridnya). Bahkan di akhir cerita dituliskan bahwa Nyi Sadikem menolak lamaran yang ke-100 dari Damar anak ndoro Poerboningrat yang jatuh cinta padanya.
Dia tak ingin benar-benar berbagi hati, terlebih kepada seorang lelaki. Perempuan seperti dirinya, tak diperuntukkan untuk dimiliki seorang lelaki (hal 219).


Posting Komentar