Sudah hampir sebulan lebaran berlalu, namun masih banyak masyarakat dari berbagai komunitas maupun trah keluarga yang melaksanakan halal bihalal.
Halal bihalal sebenarnya adalah sebuah tradisi khas di Indonesia, yang dilakukan setelah hari raya Idul Fitri. Dan tradisi ini terus berkembang hingga sekarang, hampir di seluruh wilayah nusantara ini.
Berbagai kalangan setelah lebaran, sibuk menghadiri halal bihalal di beberapa tempat. Bahkan tak jarang dalam sehari bisa halal bihalal di beberapa tempat berbeda. Hal ini tidak hanya terjadi di kantor-kantor atau sekolah-sekolah saja, namun berbagai kalangan juga melaksanakan halal bihalal.
Sebagian orang atau pejabat dengan ekonomi menengah ke atas, biasanya mengadakan “open house.” Mereka mengundang kerabat, relasi, dan keluarga untuk datang bersilaturahmi dan menikmati hidangan yang tersedia. Bahkan tak jarang banyak juga yang mengadakan halal bihalal sambil bersedekah, misalnya mengundang anak yatim dari panti asuhan atau yang lainnya.
Halal bihalal juga tak asing di kalangan remaja dengan komunitasnya, ibu-ibu (emak-emak) sosialita, kelompok pengajian, masyarakat di suatu komplek perumahan, bahkan komunitas blogger Gandjel Rel yang saya ikuti tak ketinggalan juga mengadakan halal bihalal (yang dibarengi dengan kegiatan membaca bareng komunitas Semarang Baca).Ulasannya silahkan baca disini.
Walaupun tidak disebutkan secara langsung di dalam Al Qur’an, namun makna yang terkandung di dalam halal bihalal sangat sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Halal bihalal mempunyai nilai menjaga silaturahmi, saling memaafkan dan juga untuk perdamaian.
ARTI KATA “HALAL BIHALAL”
Menurut KBBI, halal bihalal artinya hal maaf memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang. Halal bihalal merupakan suatu kebiasaan khas di Indonesia.Pendapat lain mengatakan, arti kata “halal bihalal” sebagai berikut:
“Halal” berarti sesuatu yang diperbolehkan atau bersih dari kesalahan.
“Bihalal” (dari bahasa Arab) yakni, proses “menghalalkan” atau membersihkan hubungan.
Jadi, halal bihalal bisa dimaknai sebagai usaha untuk membersihkan hati dari kesalahan dan menjadikan hubungan kembali baik (halal) melalui saling memaafkan.
BEBERAPA TRADISI HALAL BIHALAL DI DAERAH
Daerah-daerah di Indonesia mempunyai tradisi halal bihalal yang berbeda tergantung pada kearifan lokal daerah tersebut. Berikut ini adalah tradisi halal-bihalal tersebut.HALAL BIHALAL DALAM KELUARGA JAWA
![]() |
| tradisi-sungkeman-saat-lebaran (Gambar: pinterest) |
Setelah acara sungkeman biasanya dilanjutkan acara bersalam-salaman antar seluruh anggota keluarga. Kemudian menikmati hidangan khas lebaran yakni ketupat, lontong opor dan sambal goreng serta hidangan lainnya.
Makna acara ini adalah mempererat hubungan antar anggota keluarga dan saling menghapus kesalahan antar anggota keluarga.
HALAL BIHALAL DI LINGKUNGAN SOSIAL
Halal bihalal di lingkungan sosial meliputi lingkungan perumahan (tetangga), lingkungan sekolah atau instansi (di kantor).Biasanya acaranya lebih resmi dan seremonial. Diawali sambutan dari tokoh masyarakat, kepala sekolah maupun kepala instansi. Dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan tausiyah ustadz, menikmati hidangan khas lebaran. Acara diakhiri dengan bersalam-salaman bersama. Maknanya adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan meningkatkan kebersamaan di masyarakat.
TRADISI SYAWALAN DI KERATON
Tradisi Syawalan dilaksanakan 7 hari setelah lebaran. Di beberapa daerah ditandai dengan memasak ketupat, opor dan sambal goreng. Tradisi makan ketupat bersama dinamakan kupatan (di Jawa).Di beberapa daerah ada tradisi gunungan dan kirab, misalnya di keraton Yogyakarta, keraton Surakarta dan disebut Grebeg Syawal.
Gunungan ini berupa tumpukan buah, sayur serta makanan yang disusun seperti gunung. Setelah didoakan, gunungan diarak dari keraton menuju alun-alun, dan diperebutkan masyarakat. Mereka percaya bahwa isi gunungan akan membawa berkah. Tradisi ini masih berlangsung hingga saat ini.
Tradisi gunungan mempunyai makna rasa syukur terhadap hasil bumi, merupakan simbol kemakmuran dan kesejahteraan yang merupakan sedekah dari raja untuk rakyatnya.
MAKNA HALAL BIHALAL
Halal bihalal mempunyai makna yang mendalam. Beberapa makna halal.bihalal akan diulas di bawah ini.KEBERSAMAAN DAN TOLERANSI
Halalbihalal di lingkungan sosisl (perumahan, sekolah maupun instansi) biasanya tak hanya diikuti oleh yang muslim saja tetapi yang non-muslim pun juga ikut bergabung melaksanakan halal bihalal.Hal ini menunjukkan adanya sikap kebersamaan dan toleransi di masyarakat. Mereka saling menghormati dan menghargai tradisi yang telah ada, yang merupakan kearifan lokal.
KERENDAHAN HATI UNTUK MINTA MAAF
Makna halal bihalal yang lain adalah kerendahan hati untuk meminta maaf pada orang lain. Mungkin saja selama bergaul ada sikap atau perkataan yang secara tidak sengaja menyakiti hati orang lain. Nah dalam kesempatan halal bihalal inilah diharapkan saling memaafkan kesalahan di masa lalu. Membutuhkan kerendahan hati untuk minta maaf, serta ketulusan hati dan keikhlasan untuk memaafkan.MENUMBUHKAN SIKAP KEPEDULIAN SOSIAL
Halal bihalal menumbuhkan sikap kepedulian sosial terhadap lingkungan. Sebagai contoh, bila ada acara halal bihalal di suatu komplek perumahan, semua warga ikut bergotong royong membantu terlaksananya acara tersebut, tak memandang muslim atau bukan. Begitupun acara halal bihalal yang dilaksanakan disekolah maupun instansi, akan melibatkan semua warga di tempat tersebut tanpa pandang bulu. Selain itu mereka juga ikut bersikap saling memaafkan satu dengan lainnya.Hal inilah yang dimaksud halal bihalal menumbuhkan sikap kepedulian sosial.
MEMPERKUAT HUBUNGAN ANTAR SESAMA
Dengan halal bihalal terjalin silaturahmi dengan sesama, atau hubungan sosial dengan sesama.Silaturahmi harus selalu dijaga tidak hanya saat halal bihalal saja. Karena pada hakekatnya manusia adalah mahluk sosial, yang tidak bisa hidup sendiri dan butuh bersosialisasi.

.jpg)

Menarik banget ulasannya! Saya setuju kalau Halal Bihalal itu tradisi yang unik dan perlu terus dijaga. Meskipun kadang persiapan acaranya lumayan repot, tapi pas sudah ketemu dan saling bermaafan, rasa lelahnya langsung hilang. Tulisan ini jadi pengingat buat saya kalau menjaga hubungan baik dengan sesama itu memang esensial banget.
BalasHapusKalo nggak ada Halal Bihalal kayaknya ajang silaturahmi saat lebaran tiap tahun akan hilang sedikit demi sedikit. Apalagi generasi sekarang yang kebanyakan mager buat silaturahmi tiap lebaran (sambil nunjuk diri sendiri, hehe).
BalasHapusBetul Bu, halal bihalal nih tradisi turun-temurun yang harus banget dilestarikan ya. Di daerahku, di Batu, kalo berkunjung ke rumah sesepuh masih ada sungkeman. Jadi kita sungkem ke mbah-mbahnya, terus nanti didoain panjaaaang banget pake bahasa Jawa kayak mantra wkwk. Jujur aku banyak nggak ngertinya, saking kunonya bahasanya. Tapi aku yakin isinya ucapan doa-doa yang baik, kayak sehat, panjang umur, karir lancar, gitu-gitu lah. Sebetulnya sayang banget, anak muda sekarang banyak yang nggak mau nerusin tradisi ini. Padahal ini bahasa asli daerah yang kalo gak dilestarikan bisa punah.
BalasHapusKalo halal bihalal di lingkungan kerja atau sosial komunitas kan yah umumnya gitu lah ya. Ada kayak pengajiannya, terus maaf-maafan, makan-makan.
Kalo sungkeman yang kuno itu udah jarang banget. Beruntung dan bersyukur sekali aku sampe sekarang masih bisa merasakan itu.
Sekarang tradisi halal bi halal sudah jadi agenda rutin, baik di masyarakat maupun instansi pemerintahan. Bahkan dulu sewaktu masih bekerja di PMA, tradisi ini tetap terjaga.
BalasHapusTradisi halal bihalal ternyata memang sudah ada dari dulu ya dan wajib dijaga terus sih karena banyak banget manfaatnya. Baru saja suamiku pulang halal bi halal bersama teman2 SMA nya dulu, jadi sekalian reuni juga.
BalasHapusSalah satu tradisi Indonesia yang kusuka adalah halal bihalal. Tidak hanya di Jawa di daerah lain pun juga tradisi ini tetap berlangsung walaupun mungkin istilahnya ada yang berbeda. DI artikel ini namanya Sywalan, di artikel lain yang saya pernah baca namanya tetap halal bihalal.
BalasHapusTradisi saling berkunjung atapun berkumpul di bulan Syawal ini benar-benar mengakrabkan satu sama lain, entah kerabat, tetangga maupun kolega hingga teman saat skeolah dulu. Menyenangkan menyambung silaturahmi
Bersyukur sekali kita punya tradisi halalbihalal yang membuat idul fitri tidak berlalu 1, 2 hari saja, tapi bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu sampai sebulan dipenuhi dengan silaturahmi antar keluarga, tetangga, dan relasi lainnya sehingga lebaran meninggalkan kesan hangat dan unik di negeri kita
BalasHapusBetul, Bu, lebaran sudah meninggalkan kita lebih dari satu bulan yang lalu. Namun, masih ada masyarakat yang melangsungkan halal bi halal. Ini terjadi pada keluarga besar saya. Baru Sabtu kemarin, kami berkumpul sebanyak 216 orang untuk bersilaturahmi dan saling maaf memaafkan.
BalasHapusTradisi halal bil halal masih lekat banget memang, berasa ga afdol aja gitu lebarannya kalau belum halal bil halal
BalasHapus