Ramadhan sudah berjalan 14 hari dan Alhamdulillah sampai saat ini masih diberi kelancaran untuk menjalankannya. Tak beda dengan umat muslim yang lain, tentunya di bulan suci ini, saya juga ingin lebih meningkatkan kualitas ibadah saya. Dari mulai shalat wajib tepat waktu, menjalankan shalat-shalat sunnah, tadarus, datang ke kajian, bersedekah, dan berusaha lebih banyak berbuat kebaikan. Karena saya sadar diri bahwa di hari-hari biasa, ibadah saya masih belum optimal.
Sebagai ibu rumah tangga tentunya ada tambahan tugas (aktivitas) di bulan ramadhan ini. Bangun lebih pagi menyiapkan sahur, menyiapkan makanan buka puasa, merencanakan menu seminggu ke depan, menyiapkan meal preparation, beribadah serta melayani kebutuhan suami dan anak-anak adalah aktivitas tambahan yang tentunya juga membutuhkan energi tambahan. Selain itu saya juga harus rutin menulis untuk update blog, supaya tak jadi sarang laba-laba atau lumuten (bahasa Jawa).
Tentang aktivitas ngeblog ini, saya harus ingat “Big Why” awal ngeblog dan tujuannya, yang mau tidak mau memaksa saya untuk konsisten menulis (update blog). Karena bagi saya, menulis juga menjadi hiburan buat diri sendiri, menuangkan semua ide yang ada di kepala agar lega. Seringkali berisiknya isi kepala akan terasa plong dan lega, setelah tertuang dalam tulisan.
Biasanya ada beberapa hal yang berpengaruh terhadap aktivitas ibu rumah tangga saat ramadhan:
- Merasa lelah dan energi menurun terutama di siang hari. Biasanya dalam kondisi puasa (tanpa asupan makanan dan minuman), badan akan terasa cepat lelah. Padahal bagi seorang IRT di rumah pun tetap harus mengerjakan pekerjaan domestik (mencuci, memasak, membersihkan rumah dkk) yang tentunya semua itu membutuhkan tenaga.
- Adanya aktivitas tambahan di bulan ramadhan, menyebabkan waktu terasa lebih sempit, sehingga mungkin 24 jam terasa kurang sementara pekerjaan tak ada habis-habisnya.
- Kondisi badan yang cepat lelah menyebabkan mood naik turun, sehingga mempengaruhi produktivitas. Hal ini juga saya rasakan, terutama untuk mood menulis dan membaca.
- Kadang IRT merasa bersalah saat beristirahat sejenak atau menjalani me time untuk diri sendiri. Merasa bersalah, kenapa tidak mendahulukan kepentingan keluarga. Saya pun sering merasakan hal ini, di saat saya ingin istirahat sejenak dari pekerjaan domestik dan ingin menulis sejenak. Tetapi biasanya saya menyempatkan sedikit waktu untuk menulis, setelah semua tugas domestik selesai.
TIPS KONSISTEN MENULIS SAAT PUASA DAN LELAH ALA IRT
![]() |
| seorang-ibu-sedang-menulis-dengan-tangan (gambar: pinterest) |
Sebagai IRT yang juga ngeblog, di bawah ini adalah tips konsisten menulis saat puasa dan lelah.
MENULIS SESUAI KEMAMPUAN
Saya mempunyai kebiasaan pada hari-hari biasa (selain ramadhan) untuk meluangkan waktu menulis minimal satu jam. Dalam waktu satu jam biasanya saya menulis kurang lebih 800-1000 kata.Tetapi di bulan ramadhan ini tentu target itu menurun seiring dengan badan yang mudah lelah dan pikiran tidak fokus karena sedang puasa. Nah, di bulan ramadhan ini saya biasa hanya menulis kurang dari 500 kata. Menurut saya yang penting adalah konsistensi dan rutinitas kita menulis harus terus berjalan, dan jangan sampai berhenti di tengah jalan. Jadi tak ada salahnya bila menulis semampu kita saja. Karena bila sudah berhenti, maka akan sulit untuk memulainya lagi. Lebih baik menulis sedikit tapi konsisten, daripada banyak tapi hanya sesekali menulis.
MENENTUKAN WAKTU MENULIS YANG TEPAT
Bagi saya menulis membutuhkan ketenangan dan pikiran yang fokus. Pada hari-hari biasa, saya menulis pagi hari saat suami dan anak-anak sudah berangkat (ke kantor dan kuliah), sehingga suasana rumah benar-benar sepi. Demikian juga di bulan ramadhan ini saya biasa menulis di pagi hari, dan bisa dilanjutkan setelah shalat tarawih (malam).Waktu yang tepat untuk menulis bagi setiap orang tidak sama. Mungkin di bulan ramadhan ini ada yang lebih nyaman menulis setelah sahur karena pikiran masih segar, setelah tarawih atau bahkan sebelum berbuka sebagai refleksi. Namun bagi saya sebagai IRT, sebelum berbuka biasanya sibuk menyiapkan hidangan buka puasa, jadi untuk saya lebih tepat menulis di pagi hari setelah tugas domestik selesai di saat suami dan anak-anak sudah berangkat ke tujuan masing-masing.
MENULIS BEBAS TANPA MENGEDIT
Kadang-kadang saya melakukan hal ini bila ada deadline artikel harus selesai. Tulis saja apa yang ada di pikiran, tanpa mengedit dan memperhatikan susunannya. Menulis selama 15 hingga 30 menit saja (atau bisa lebih), setelah selesai semua lakukan editing, penyusunan paragraf maupun judul dan subjudul. Hal ini akan lebih menghemat waktu, tetapi tentu sebelumnya ide dan kerangka harus sudah siap. Menurut saya menulis dengan cara ini akan lebih menghemat waktu.MENYIAPKAN IDE
Kemanapun pergi biasanya saya selalu membawa sebuah buku kecil (notes) dan alat tulis. Untuk apa notes itu? Tentu saja untuk menulis ide bila tiba-tiba terlintas dalam pikiran. Seringkali saat sedang jalan, ada suatu hal menarik perhatian lalu saya tuliskan di buku kecil itu. Penginnya sih langsung nulis, tapi kan tidak mungkin saat itu langsung buka laptop, kalau nulis di handphone masih mungkin. Cara ini juga menghemat energi untuk mencari ide bila suatu saat harus menulis artikel. Dengan mencatat hal-hal kecil di notes, tak perlu berpikir lagi topik apa yang harus ditulis, tinggal buka notes lalu tulis artikel sesuai ide yang ada di catatan kita.MENULIS DALAM BEBERAPA TAHAP
Dalam menulis artikel, tidak harus selesai dalam satu waktu. Saya bahkan kadang-kadang butuh waktu paling tidak 2 hari untuk menyelesikan sebuah artikel. Namun pernah juga hanya butuh waktu kurang dari sehari menyelesaikan sebuah artikel, tergantung mood dan kondisi fisik saya. Agar beban terasa lebih ringan, alangkah baiknya bila di bulan ramadhan ini dalam menulis artikel dibagi menjadi beberapa tahap (hari). Misalnya hari ke-1 menulis kerangka, menulis pendahuluan, kemudian hari ke-2 menulis isi dan penutup serta mengedit artikel demikian seterusnya sesuai kemampuan dan mood kita.INGAT TUJUAN MENULIS
Bila rasa malas datang, ingat kembali apa tujuan awal menulis. Menulis bisa diniatkan untuk berbagi manfaat bagi orang lain, untuk berbagi pengalaman, untuk menginspirasi orang lain atau sekadar sebagai tempat curhat melepaskan semua isi kepala yang berisik. Kalau saya tujuan awal menulis adalah agar tidak cepat pikun di usia kepala enam ini. Dengan menulis akan memaksimalkan kerja otak, memaksa berpikir kritis dan teratur. Makanya di bulan ramadhan ini saya berusaha untuk tetap menulis walaupun hanya 15 sampai 30 menit sehari, syukur-syukur bisa lebih dan menghasilkan sebuah artikel yang bermanfaat untuk pembaca.MENJAGA KESEHATAN FISIK
Menjga kesehatan fisik di saat ramadhan juga tak kalah penting. Dengan fisik yang sehat saat puasa, akan memudahkan berkarya. Menjaga kesehatan fisik saat ramadhan bisa dilakukan dengan tidak melewatkan makan sahur, cukup beristirahat, lakukan olahraga ringan, mencukupi kebutuhan cairan untuk tubuh (2:4:2), memilih aktivitas yang utama, mengurangi scrolling handphone, serta meningkatkan kualitas ibadah.PENUTUP
Konsistensi dalam menulis perlu dipertahankan, tetapi harus menyesuaikan kondisi tubuh dan energi. Tidak perlu memaksa diri harus menulis dalam satu waktu, tetapi menulis bisa dibagi dalam beberapa tahap. Yang terpenting adalah konsisten dan rutin menulis walaupun hanya sebentar (15-30 menit) dan sedikit, tak mengapa. Daripada menulis dalam jumlah banyak (waktu yang lama) tetapi hanya sesekali saja (jarang).Di sela-sela waktu menyelesaikan pekerjaan domestik sempatkan menulis walau hanya sedikit. Ingat kembali tujuan awal menulis untuk berbagi manfaat bagi orang lain, untuk berbagi pengalaman atau hanya sekadar curhat (refleksi diri). Nah, bagaimana tanggapan teman-teman tentang tips-tips tersebut, tuliskan di kolom komentar ya. Selamat menulis. Semoga tips-tips di atas bermanfaat.
#TheCupuersIsBack
#RamadanSoulJourney
#BloggingAsIbadah

.jpg)

Posting Komentar