QS Sl-Baqarah: 183 (Perintah Puasa):Bagi seorang ibu rumah tangga, ramadhan menjadi bulan yang penuh tantangan dan tanggung jawab. Saat puasa, ibu harus tetap mengurus dan melayani keluarga sementara energi serta waktu lebih terbatas. Ibu ibaratnya penjaga gawang yang harus selalu siap bila dibutuhkan. Bangun paling awal dan tidur (beristirahat) paling akhir. Bahkan seringkali karena terlalu sibuk melayani suami dan anak-anak, hingga kebutuhan ibu sendiri terabaikan. Sebagai contoh misalnya waktu yang seharusnya bisa lebih maksimal melakukan tadarus, namun karena terlalu sibuk di dapur (memasak) maka kesempatan bertadarus menjadi berkurang waktunya.“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Selain itu seringkali tantangan bagi ibu rumah tangga adalah soal manajemen waktu. Saat puasa, ada waktu tambahan untuk menyiapkan makan sahur, menyiapkan menu berbuka dan malam hari harus melakukan shalat tarawih atau amalan-amalan yang lain. Nah, hal-hal itulah yang sering menyebabkan fisik ibu mudah lelah dan mungkin juga gampang tersulut emosi. Padahal sebenarnya dengan berpuasa kita harus bisa mengelola emosi, menahan amarah dan bersikap lebih sabar. Saya sendiri juga sering merasakan hal itu. Saat tubuh merasa lelah, bila ada hal kecil yang kurang berkenan, pastinya emosi mudah tersulut.
Di bawah ini adalah ulasan tentang tantangan terberat saat puasa pada ibu rumah tangga dan cara mengatasinya.
MENGATUR WAKTU (MANAJEMEN WAKTU)
Bagi saya atau mungkin bagi ibu-ibu yang lain, bulan ramadhan seringkali menambah daftar kegiatan (aktivitas). Mulai dari dini hari menyiapkan makanan sahur, menyiapkan kebutuhan keluarga, tadarus, datang ke pengajian, menyiapkan makanan untuk berbuka, shalat tarawih, dan tak ketinggalan tentunya pekerjaan-pekerjaan domestik (mencuci, memasak dan kawan-kawannya), yang semuanya itu membutuhkan waktu di masing-masing aktivitas.Akan tetapi namanya ibadah dan rutinitas harian, harus dijalani bagaimanapun kondisinya. Tanpa keluhan namun harus ikhlas dan penuh kesabaran dalam menjalankannya. Selain itu bagaimana ibu mengatasi semua itu dengan cara harus pintar mengatur waktu (manajemen waktu). Karena bagaimanapun kalau ibu tidak pandai mengatur waktu, ibu akan merasa kewalahan dengan tambahan aktivitas tersebut. Tentu hal ini berpengaruh pada kualitas ibadah ibu.
Untuk mengatasi hal itu, ibu dapat melakukan beberapa hal, yakni:
- Membuat prioritas pekerjaan yang paling penting dan harus dikerjakan lebih dulu, misalnya pekerjaan yang tidak bisa ditunda (memasak). Tidak semua pekerjaan harus selesai dalam satu waktu. Bila ibu ingin tadarus atau beribadah sunnah, lakukan lebih dulu dengan hati yang tenang. Setelah itu baru lakukan pekerjaan yang tidak membutuhkan prioritas atau tidak memakan waktu lama. Namun perlu diingat, untuk shalat wajib sebaiknya tidak menunda waktu dan usahakan ibu untuk shalat tepat waktu.
- Berbelanja kebutuhan makanan untuk waktu tertentu (misalnya satu minggu), lalu lakukan food preparation, Jadi bila ibu membutuhkan, bahan makanan siap untuk dimasak.
- Agar tidak memakan waktu lama, sebaiknya rencanakan juga menu untuk satu minggu, sehingga ibu bisa belanja sesuai kebutuhan.
- Bila memungkinkan, ajaklah anak-anak untuk membantu hal-hal kecil dalam menyelesaikan pekerjaan domestik ini.
MENGATUR ENERGI AGAR TETAP FIT
Ini adalah hal penting yang juga harus diperhatikan. Di bulan ramadhan, ibu rumah tangga ibaratnya adalah penjaga gawang yang memulai pekerjaan sejak dini hari hingga malam hari. Dalam kondisi puasa, selama 13 jam tanpa asupan makanan dan minuman akan menyebabkan tubuh merasa cepat lelah bahkan lemas. Sebagai ibu, tentu juga harus pandai mengatur energi agar bisa menjalankan puasa dan ibadah dengan baik. Karena ibu harus mengurus keluarga dan menyiapkan semuanya, jika kondisi ibu tidak fit atau bahkan sakit, akan mengacaukan semua yang telah direncanakan, dan menghambat pekerjaan domestik. Jadi disini malah akan merugikan semuanya. Ibu sendiri juga rugi karena tidak bisa beribadah dengan maksimal, anak dan suami juga tidak ada yang mengurus (menyiapkan) hidangan untuk berpuasa.Bagaimana menyiasatinya?
- Agar merasa kenyang lebih lama, saat sahur usahakan menu yang tinggi protein dan serat, ditambah karbohidrat sebagai energi. Kalau saya biasanya makan nasi secukupnya, yang terpenting adalah protein dan makanan berserat.
- Bila ingin berolahraga lakukan pagi hari atau sore hari. Sebaiknya ibu menghindari aktivitas yang berat di siang hari.
- Apabila memungkinkan, tidur sejenak untuk beristirahat kurang lebih 20 menit saja.
- Sebaiknya tidur tepat waktu dan jangan begadang agar tubuh fit.
MENGENDALIKAN EMOSI
Rasa lapar dan kurang tidur biasanya akan lebih mudah memicu emosi ibu, ditambah lagi tubuh yang terasa cepat lelah serta lemas. Puasa adalah bulan ibadah untuk menahan hawa nafsu, menahan emosi dan tidak hanya menahan haus dan lapar. Karenanya menjaga sikap dan perkataan adalah yang utama.Beberapa cara di bawah ini, dapat mengendalikan emosi ibu:
- Kadang-kadang ada hal yang membuat hati ibu tidak berkenan atau bahkan merasa kesal. Saat itu usahakan meredam rasa kesal dengan cara menarik napas panjang, beristighfar maupun berdzikir. Tenangkan hati dan pikiran saat emosi mulai datang.
- Mengingat kembali tujuan ibadah ramadhan adalah untuk meraih ridha Allah Swt.
- Berhenti sejenak (istirahat) dari rutinitas yang mengganggu ketenangan hati, sesudah emosi mereda ibu bisa kembali melakukan aktivitas yang harus dituntaskan.
- Jangan segan meminta bantuan pada anak-anak maupun suami. Dan jangan pernah merasa bersalah bila ibu meminta bantuan mereka.
- Berusaha bersikap lebih sabar dan ikhlas menjalani semuanya.
KONSISTEN MENJAGA KESEHATAN FISIK
Tantangan terberat lain bagi ibu rumah tangga di saat puasa adalah konsisten menjaga kesehatan fisik. Terlalu bersemangat melayani kebutuhan keluarga, dan sedang menjalankan puasa kadang-kadang ibu jadi lupa menjaga kesehatan. Kesehatan dalam hal ini adalah untuk menjaga agar tubuh tetap bugar, fit dan tak ada keluhan selama puasa. Seringkali ibu tidak memikirkan kebutuhan dirinya sendiri, karena dituntut rasa tanggung jawab melayani dan merawat keluarga. Tidak ada salahnya (jangan merasa bersalah) bila ibu merasa sudah sangat lelah, untuk beristirahat atau tidur sejenak (20 menit saja sudah cukup). Ini akan mengembalikan energi ibu saat sudah lemas, yang biasanya terjadi di siang hari.Jadi usahakan untuk menjaga kesehatan fisik dengan cara:
- Saat berbuka dan sahur minumlah cukup air. Metode 2-4-2 sangat membantu, yakni 2 gelas pada saat berbuka, 4 gelas pada malam hari dan 2 gelas pada saat sahur.
- Di pagi hari atau sore ibu bisa melakukan olahraga ringan misalnya senam ringan, agar tubuh bugar dan sendi-sendi tidak kaku.
- Mengurangi makanan berlemak, gorengan maupun berkadar gula tinggi. Memang rasanya ada yang kurang bila puasa tidak makan gorengan, kolak atau es buah. Akan tetapi ibu bisa memperkirakan kebutuhan akan makanan-makanan tersebut. Saya pun membiasakan untuk mengurangi atau bahkan berhenti makanan-makanan tersebut demi kesehatan, disaat usia sudah tidak muda lagi (lansia).
- Tak kalah pentingnya adalah, ibu harus mempunyai waktu tidur yang mencukupi. Setelah shalat tarawih usahakan untuk tidur lebih awal, dan hindari begadang.
PERASAAN BAHWA SEMUA HARUS SEMPURNA
Setiap keluarga mempunyai kondisi dan kemampuan yang berbeda, karenanya tidak usah membandingkan kondisi keluarga ibu dengan orang lain. Mungkin seringkali ibu berpikir bahwa ramadhan harus makan enak (mewah), harus makan menu yang berbeda dengan hari-hari biasa, rumah harus tampak bersih dan rapi atau harapan-harapan ibu yang lainnya. Hal ini tanpa disadari akan membuat perasaan ibu tertekan, karena berharap dapat memenuhi semuanya dan menuntaskannya. Menurut saya yang terpenting adalah makna ramadhan dan bagaimana kita beribadah dengan maksimal untuk meraih ridha Allah Swt. Jadi antara ibadah dan merawat keluarga adalah dua hal yang setidaknya bisa berjalan seimbang.Dengan kesederhanaan tidak mengurangi makna ibadah ramadhan. Hanya dengan ketulusan dan keikhlasan dalam menjalankannya, Inshaa Allah akan meraih ridha Allah Swt.
PENUTUP
Jadikanlah lelah ibu menjadi lillah. Bulan ramadhan bagi ibu rumah tangga adalah bulan yang penuh tantangan dan ujian. Energi ibu rasanya terkuras, emosi ibu diuji bahkan waktu yang terasa sangat sempit dan mengejar-kejar, pekerjaan yang tak ada habisnya dan lain-lain.Apa yang ibu persembahkan untuk keluarga adalah bernilai ibadah. Sebaiknya ibu menjalani semuanya dengan tulus, ikhlas dan sabar untuk meraih ridhanya Allah Swt. Inshaa Allah setiap doa ibu akan diijabah dan setiap amal baik ibu akan berpahala. Aamiin.
Semangat untuk para ibu rumah tangga yang berjuang merawat keluarga, dan beribadah dengan khusyu, tulus dan ikhlas di bulan ramadhan ini. Semoga tulisan ini bermanfaat.
#Challenge Menulis IIDN


Posting Komentar