wahyusuwarsi.com

LAUK DAUN: CERITA TENTANG KAMPUNG DI TENGAH KOTA

 

Novel Lauk Daun

DESKRIPSI BUKU

Novel yang ditulis Hartari (seorang blogger dari Semarang) ini diterbitkan baNANA, cetakan kedua Januari 2025

Novel setebal 136 halaman ini bisa dibaca sekali duduk. Ceritanya ditulis dengan gaya bahasa menarik, disajikan penuh humor dan jenaka.

Naskah novel ini menarik perhatian juri dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2021.

Membaca buku ini kadang bisa tersenyum dan bahkan gemas dengan tingkah polah para tokohnya. Bahkan terlintas dalam pikiran saya "kok ada ya orang seperti itu." Dan kenyataannya di lingkungan sekitar kita banyak yg punya karakter seperti tokoh-tokoh buku ini.

SINOPSIS

Menceritakan tentang sebuah kampung di kota bernama Kampung Merdeka, dengan penduduk terdiri dari berbagai karakter dan status sosial ekonomi.

Diawali kisah di sebuah grup WA, warga berdebat soal lockdown yg diplesetkan menjadi Lauk Daun. Cerita ini ditulis berlatar belakang saat pandemi (pageblug). Warga di grup WA berunding, apakah kampung mereka perlu lockdown.

Terjadi perdebatan antara warga yang setuju dan tidak setuju bila kampung di lockdown.

Ada dua tokoh yang punya karakter menonjol di novel ini. Bu As yang terlalu dominan dan selalu ingin tampil di antara warga kampung. Dan Yayuk yang antagonis dan selalu berseteru dengan warga, terkenal dengan sifat yang suka kawin cerai, dan berhubungan tak hanya dengan satu laki-laki.

Dijelaskan juga tentang asal-usul nama Kampung Merdeka dan pergantian kepala kampung (RT), mulai dari pak Aripin, pak Amar hingga pak Asikin (pak As) dan pejabat RT yang baru.

Konflik cerita ada pada bu As yg ingin dominan di setiap kegiatan, hampir semua keputusan ada di tangan bu As.

Banyak ibu sering mengeluh dan menangis setelah pertemuan PKK. Hal ini juga karena bu As, yang sering memberi instruksi dan perintah pada anggota PKK. Mereka juga diharuskan ikut senam setiap hari Minggu.

Suatu hari diadakan lomba antar kampung yaitu lomba kampung hijau. Dalam lomba kampung hijau, bu As yg menjadi koordinator. Semua warga diharuskan menanam cabai dan pohon pucuk merah. Selain itu juga tanaman terong dan buah dalam pot. Warga yang tak punya bibit tanaman, diharuskan membelinya dari bu As. Ya, bu As menjadi penjual tanaman yang mengharuskan setiap warga kampung membelinya. Sedangkan pohon pucuk merah dibeli dari uang kas, tanpa persetujuan warga. Tanaman-tanaman itu diletakkan di setiap rumah warga, dan  Kampung Merdeka menjadi percontohan Kampung Hijau. 

Ternyata Kampung Merdeka menjadi juara pertama tingkat kelurahan. Bu As sangat berharap bahwa Kampung Merdeka mewakili hingga tingkat nasional, dan dipanggil menghadap Presiden. “Yang penting kita hadapi dulu lomba bulan depan. Nggak usah muluk-muluk ketemu pak Presiden deh,” kata seorang warga.

Setelah pergantian ketua RT pun, bu As tetap dominan menginstruksi ketua PKK yg baru, sesuai dengan keinginannya.

Tokoh dominan lain yakni Yayuk, yang sering bermasalah soal asmara, dan sering bertengkar dengan tetangga. Dari suami pertama bernama Hari, hingga kini suami yang terakhir seorang anggota dewan. Pun demikian  Yayuk sering terlibat cinta segitiga.

KESAN MEMBACA BUKU INI

Buku ringan yg menghibur dengan sentuhan humor dari percakapan tokoh-tokohnya.

Kisah-kisah di buku ini sangat related dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat. Karakter masing-masing tokoh juga banyak ditemukan di lingkungan sekitar kita. 

Kehidupan bertetangga di sebuah kampung yang ada di tengah kota, dengan segala konflik dan masalahnya. 

Tak heran dimanapun itu, dalam kehidupan masyarakat selalu ada karakter yang mirip bu As maupun Yayuk dalam novel ini.

Novel ini masih menarik untuk dibaca, bahkan dicetak ulang pada tahun 2025. Silahkan teman-teman membaca novel ini.


 


Posting Komentar