Ramadhan di masa kanak-kanak adalah kenangan indah yang tak terlupakan. Saya akan cerita kenangan saat ramadhan di masa kecil ketika masih SD.
RAMADHAN BERSAMA KELUARGA
Kenangan ramadhan yang masih saya ingat adalah ketika duduk di SD dari kelas 1 hingga kelas enam. Kelas 1 hingga 2 SD keluarga saya menetap di Salatiga, sebuah kota kecil yang sejuk di Jawa Tengah.Keluarga kecil saya terdiri dari bapak, ibu dan 3 adik-adik yang masih kecil. Saat ramadhan pun seperti keluarga yang lain, kami juga menjalankannya. Bapak, ibu, saya dan adik kedua berpuasa, shalat tarawih seperti biasa. Tetapi karena saya dan adik masih usia 7 dan 6 tahun, maka orang tua kami mengizinkan kami puasa setengah hari. Dalam bahasa Jawa, puasa setengah hari disebut “Puasa Bedug.” Ya, maklumlah sambil belajar puasa kata bapak dan ibu. Sedangkan 2 adik saya yang lain masih balita, karenanya belum berpuasa.
Menginjak kelas 3 SD keluarga kami mengikuti kepindahan bapak ke kota Semarang. Dan di kota inilah hingga saat ini saya menetap, menikah dan berkeluarga. Setelah kelas 3 SD saat itu saya sudah bisa berpuasa hingga maghrib, tetapi adik masih setengah hari puasanya.
Masih lekat dalam ingatan saya, ibulah yang menjaga gawang dalam keluarga. Bangun dini hari, memasak menyiapkan hidangan sahur buat kami semua. Siang pun beliau masih melakukan pekerjaan domestik, beribadah, berorganisasi, menyiapkan hidangan berbuka, shalat tarawih dan semua urusan rumah yang lain. Mungkin sebenarnya beliau lelah tapi demi keluarga, semua dijalani dengan ikhlas dan sabar. Dan sekarang setelah menjadi ibu rumah tangga baru saya sadari, ternyata tidak mudah dan tidak ringan tugas seorang ibu rumah tangga, walaupun hanya di rumah. Mengurus semua kebutuhan suami dan anak-anak, melakukan tugas-tugas domestik, dan mungkin juga berorganisasi (sosial) yang semuanya membutuhkan energi.
Masakan ibu saya memang tak ada duanya. Beliau selalu memberi menu yang terbaik dan bergizi untuk kami. Selain menu utama, takjil atau menu pembuka tak pernah dilupakan. Masing-masing anggota keluarga mempunyai makanan favorit, dan ibu berusaha untuk selalu memenuhinya. Misalnya, bapak adalah penggemar kolak, saya dan adik-adik penggemar es buah. Nah, menu-menu itu selalu ada di atas meja saat kami berbuka, dan tentunya juga menu utama hasil request kami masing-masing. Masa kecil yang saya rasakan sangat penuh kasih sayang dari kedua orang tua kami. Tetapi juga penuh didikan disiplin dan kemandirian, Maklum saja karena bapak adalah anggota TNI AD, jadi pendidikan pada anak-anak pun diterapkan ala militer yang penuh disiplin, dan terkadang terasa otoriter juga.
Sesudah melaksanakan shalat maghrib berjamaah, kami pun menuju masjid untuk shalat tarawih. Namun kadang-kadang shalat tarawih dilakukan di rumah, saat bapak sedang dinas ke luar kota.
Pada malam lebaran kami semua berkunjung ke rumah kakek dan nenek di sebuah desa di kota Pati, namanya desa Puri. Ceritanya ada di tulisan berikut ini.
RAMADHAN DI RUMAH MASA KECIL IBU
![]() |
| pawai-obor-malam-takbiran (Gambar: pinterest) |
Tak hanya dari keluarga kami saja yang berkunjung ke desa, keluarga dari kakak-kakak ibu pun juga datang. Ibu saya adalah anak bungsu dari 10 bersaudara. Bisa dibayangkan betapa ramainya rumah mbah saya di desa. Semua pakde dan bude saya membawa keluarga masing-masing untuk menginap di sana. Pakde adalah sebutan kakak laki-laki ibu saya, dan budhe adalah sebutan kakak perempuan ibu saya.
Tentu saja kami anak-anak sangat senang, bertemu saudara sepupu yang datang dari berbagai kota. Malam terakhir ramadhan, mbah rayi biasanya memasak enak untuk kami cucu-cucunya. Kami melakukan shalat tarawih bersama dan juga takbiran.
Saat itu suasana takbiran di desa sangat ramai. Orang-orang berkeliling desa sambil membawa obor atau penerangan, kira-kira tahun 1975 an. Sangat menyenangkan dan meriah menyaksikan arak-arakan takbiran keliling desa. Saya beserta saudara-saudara sepupu ikut menyaksikan pawai takbir ini, sedangkan ibu-ibu membantu mbah rayi memasak hidangan lebaran untuk keesokan harinya. Dalam pikiran kami anak-anak, hanya baju baru dan makanan enak yang ada karena besok sudah hari lebaran. Dan saat yang paling saya dan saudara sepupu tunggu adalah, saat kami masing-masing diberi uang dalam amplop (angpao) oleh mbah. Walaupun mungkin jumlahnya tak seberapa, tapi sebagai anak kecil tentu sangat senang diberi amplop berisi uang (sekadar uang jajan).
Kenangan-kenangan ramadhan masa kecil saya masih teringat hingga kini dan bagi saya saat itu adalah kenangan terindah bersama keluarga besar saya. Saat ini mbah Raka dan mbah Rayi sudah tiada, demikian juga kayak-kakak ibu saya sudah berpulang dan tak terkecuali kedua orang tua kami juga telah tiada. Semoga beliau-beliau husnul khatimah. Aamiin.
Itu tadi cerita kenangan ramadhan masa kecil yang bisa saya ingat. Semoga berkenan.
#Challenge Menulis IIDN



Posting Komentar