wahyusuwarsi.com

PERUBAHAN POLA MAKAN PADA GENERASI Z DAN DAMPAKNYA BAGI KESEHATAN




Nugas di cafe


Pola makan pada anak sangat berpengaruh pada pertumbuhannya. Pola makan ini meliputi pemenuhan gizinya, menu yang dimakan, kebiasaan makan dan waktu makan pada anak. Anak-anak dengan pola makan yang baik dan teratur, terutama dalam hal pemenuhan gizi cenderung mempunyai pertumbuhan dan kesehatan yang baik, dibandingkan dengan anak yang kurang terpenuhi sumber gizinya atau makan hanya sekedar kenyang saja.

Saat ini banyak sekali menu-menu makanan baru yang tentu saja rasanya sangat menggoda iman untuk tidak mencobanya. Istilah anak jaman now adalah makanan kekinian. Sebut saja makanan-makanan khas Korea, makanan Jepang, makanan instant, dan berbagai jenis junk food yang notabene adalah makanan yang kurang sehat.

POLA MAKAN GENERASI TAHUN 80 DAN 90

Seperti kita tahu, generasi jaman old atau tempo dulu terbiasa makan masakan rumahan (makanan tradisional). Sebut saja generasi jaman tahun 80 an, yang lebih sering makan masakan rumahan atau mungkin sekadar makan di warung-warung kecil. Tahun 80 an adalah saat saya masih kuliah. Saat itu saya kuliah di luar kota, yaitu di sebuah kota kecil di lereng Gunung Merbabu. Dan pada saat itu belum ada resto-resto kekinian seperti saat ini. Makanan yang saya (anak kost) makan adalah makanan hasil masakan kami sendiri. Kebetulan kami adalah anak-anak kost putri yang suka ribet di dapur, sehingga masakan-masakan rumahan menjadi menu keseharian kami. Bergiliran belanja dan masak, meningkatkan kerukunan serta kekompakan di antara penghuni kost.


Contoh masakan rumahan
beberapa-masakan-rumahan
(Gambar: Pinterest)


Bila tugas-tugas kuliah sedang menumpuk, saya bersama teman sekost membeli lauk. Kebetulan di sekitar kost-kostan saya ada beberapa warung makan yang murah dan bersih. Menunya pun bermacam-macam tapi masih seputar masakan rumahan (sayur bayam, sop, lodeh, sayur asem, lauk tahu tempe, telur, ikan, ayam, opor, berbagai macam tumis/oseng, sambal, krupuk). Pokoknya lengkap dan benar-benar nglawuhi, kata orang Jawa. Harganya juga terjangkau. Tetapi saya bersama teman-teman lebih senang memasak sendiri, bukannya pelit lho. Memasak sendiri memang lebih hemat dan bersih, juga sesuai selera kami. Selain itu makanan lebih terkontrol nilai gizinya.

Namun tak hanya itu, banyak ibu-ibu muda yang memasak dan membawakan bekal untuk anaknya sekolah (TK, SD, bahkan SMP). Saat anak-anak saya masih bersekolah TK dan SD pun saya selalu membawakan mereka bekal untuk makan siang. Kebetulan anak-anak sekolah hingga pukul 15.00 dan makan siang di sekolah, baik itu catering maupun membawa bekal sendiri. Saat itu sekitar tahun 2000 an dan mulai bermunculan junk food, makanan serba instant dan resto- resto makanan baru.

Jadi disini bisa diambil kesimpulan tentang pola makan generasi jadul (old) yaitu lebih banyak mengkonsumsi makanan rumahan, saat itu belum banyak restoran sehingga kesempatan makan di luar sangat jarang, makanan lebih terkontrol kebersihannya atau kandungan gizinya, dan lebih hemat. Selain itu jenis-jenis buah dan sayuran juga tidak sebanyak dan selengkap sekarang. Saat itu juga belum ada sosial media yang sering menayangkan review makanan terbaru ala makanan luar, ataupun makanan yang unik dan makanan yang sedang ngetrend.

POLA MAKAN GENERASI ZAMAN NOW (GENERASI Z)

Pola makan generasi now banyak dipengaruhi oleh budaya kuliner dari luar yang dengan mudahnya masuk ke dalam negeri ini. Banyaknya film-film luar (misalnya film Korea) juga berpengaruh pada menu makanan yang berasal dari negara tersebut. Inovasi-inovasi makanan baru banyak dipengaruhi karena adanya sosial media (instagram, tiktok, facebook) yang menampilkan review tentang makanan-makanan baru (makanan kekinian, istilah anak zaman now).


Sate sosis
makanan-kekinian-sate-sosis
(Gambar: Pinterest)



Saat seseorang memposting jenis makanan/minuman baru, timbul rasa penasaran untuk mencoba kuliner tersebut. Hal inilah yang mempengaruhi trend kuliner yang digemari generasi zaman now. Merekalah yang menjadi sasaran dan tujuan, mengingat generasi zaman now selalu ingin mencoba inovasi baru dalam hal apapun.


Makanan hotdog
makanan-kekinian-hotdog
(Gambar: Pinterest)


Menjamurnya café-café dan resto dengan menu-menu yang ngetrend mendorong masyarakat (terutama generasi Z) untuk lebih sering makan di luar rumah. Banyak juga dari mereka yang ngafe (istilahnya saat ini) untuk mengerjakan tugas kuliah bahkan tugas kantor, sehingga waktu di café lebih banyak daripada di rumah. Tentu saja sambil nugas (mengerjakan tugas), pastilah juga memesan makanan dan minuman di café, dengan bonus wifi gratis. Tak hanya café saja, saat ini juga menjamur warmindo (warung indo mie) kekinian dengan menu yang bevariasi dan ngetrend. Café-café dan warmindo kekinian yang menjamur itu selalu ramai dikunjungi mahasiswa dan karyawan muda yang nugas atau sekadar hang out bareng.

Dampak adanya covid juga mempengaruhi pola makan generasi Z. Saat covid melanda, semua kegiatan dilakukan dari rumah, termasuk juga memesan makanan secara daring melalui aplikasi Grab, Gojek atau Shoopefood. Tentunya makanan-makanan tersebut kebanyakan adalah makanan yang praktis atau makanan instant. Namun ada juga masakan rumahan, tapi tidak begitu banyak.

Semua itu tentu menimbulkan dampak bagi kesehatan. Nah, apa saja dampaknya bagi kesehatan? Simak ulasannya di bawah ini.

DAMPAK KESEHATAN KARENA PERUBAHAN POLA MAKAN PADA GENERASI Z

Saat ini konsumsi terhadap makanan cepat saji dan makanan-makanan kekinian cenderung meningkat dengan pesat. Makanan kekinian lebih disukai oleh generasi now karena mudah didapat, berupa junkfood, rasanya manis, minuman lebih didominasi rasa manis tinggi gula dan banyak yang bersoda. Tentu saja hal ini menimbulkan dampak yang tidak baik bagi kesehatan.

Menurut dr Wachyudi Muchsin (health.grid.id), konsumsi makanan anak zaman sekarang sangat berbeda dengan anak-anak zaman dahulu. Konsumsi makanan anak zaman dahulu lebih terkontrol, sangat alami, sehingga penyakit komorbid dan sebagainya jarang ditemukan (disampaikan dalam tayangan You Tube Tribun Timur, dalam program Ngobrol Sehat).

Banyak generasi now yang mengalami obesitas, diabetes, penyakit jantung bahkan stroke. Hal ini dipicu karena jenis makanan yang tidak sehat dan generasi now cenderung kurang bergerak (jarang berolah raga), dan hanya duduk di depan laptop atau bermain gadget saja. Tetapi kondisi ini juga disebabkan karena tuntutan pada tugas-tugas sekolah ataupun sistem belajar daring (terutama saat covid melanda).

Ada beberapa berita yang pernah saya baca, bahwa banyak anak-anak yang menderita obesitas karena sering mengkonsumsi makanan instant dan junk food, ditambah lagi anak tersebut tak pernah berolah raga. Ada juga seorang anak yang sudah harus cuci darah seminggu dua kali, disebabkan karena sering minum minuman kemasan yang manis dan jarang minum air putih. Kondisi-kondisi ini sangat memprihatinkan, karena mereka adalah generasi penerus bangsa.

Anjuran dari WHO perihal makanan dan minuman yang mengandung gula, WHO mengingatkan bahwa mengkonsumsi gula dalam sehari sebaiknya tidak lebih dari 25 gram (health.grid.id). Sebaiknya lakukan olah raga secara teratur kurang lebih 15-20 menit sehari, kalori yang terbakar dalam sehari cukup 300-500 kalori jauh lebih baik daripada melakkan olahraga sekali seminggu tapi tidak rutin.

Demikianlah ulasan saya tentang perubahan pola makan pada generasi Z dan dampaknya bagi kesehatan. Semoga bermanfaat.


Referensi:

https://kumparan.com/kumparanfood/ini-perubahan-dan-perbedaan-gaya-makan-anak-90-an-vs-zaman-now-1yol1nNyZRs

https://health.grid.id/read/353718970/makanan-anak-zaman-now-vs-old-menjelaskan-mengapa-obesitas-saat-ini-tinggi

https://www.kompasiana.com/hasnalee1408/629b97d6bb44865408734382/pola-makan-dari-generasi-ke-generasi

https://www.klikdokter.com/ibu-anak/kesehatan-anak/penyakit-degeneratif-juga-menyerang-anak-muda

Posting Komentar