wahyusuwarsi.com

REVIEW FILM AIR MATA DI UJUNG SAJADAH

 

Air Mata di Ujung Sajadah


Sebuah film genre drama keluarga yang menguras air mata. Menceritakan perjuangan seorang ibu yang berusaha mendapatkan kembali anaknya yang dipisahkan selama 7 tahun

Film produksi Beehave Picture dan Multi Buana Kreasindo ini disutradarai Key Mangunsong, dengan penulis skenario Titin Wattimena. Produser film ini yaitu Ronny Irawan dan Nafa Urbach (penyanyi dan pemain film di era 90 an).

Artis-artis pendukung Airmata di Ujung Sajadah adalah mereka yang tidak diragukan lagi kemampuan aktingnya.

Titi Kamal berperan sebagai Aqilla  Fedi Nuril senagai Arif, Citra Kirana sebagai Yumna, Tuti Kirana sebagai Halimah  Faqih Alaydrus sebagai Baskara,  Krisjiana Baharudin sebagai Arfan. Jenny Rachman artis yang sudah 11 tahun tak terjun di dunia akting, juga ikut membintangi film ini sebagai Eyang Murni.

Film berdurasi 105 menit ini sebenarnya sudah tayang 7 September 2023, dan merupakan film lama. Akan tetapi baru tayang di Netflix. Baca ulasannya ya, temans.

SINOPSIS

Aqilla dan Arfan menjalin cinta saat mereka masih kuliah, namun jalinan cinta mereka tak disetujui ibu Halimah (mama Aqilla). Halimah ingin Aqilla meraih sukses hidupnya, dan masih punya masa depan yang panjang. Sementara Arfan adalah seorang yatim piatu yang bercita-cita menjadi seniman. Hidup seadanya, hanya tinggal di rumah susun. Perbedaan atatus sosial inilah yang juga menjadi kendala hubungan mereka.


Aqilla dan Arfan
Aqilla-dan-Arfan
(Gambar: Beehave Production)


Aqilla memutuskan pergi dari rumah, karena terjadi pertengkaran dengan ibunya. Kemudian Aqilla meminta Arfan  menikahinya dan keduanya tinggal di sebuah rumah susun.

Tak lama kemudian, Aqilla hamil. Dia ingin mengabarkan kabar bahagia itu kepada Arfan, tentunya sebagai surprise. Namun takdir berkata lain. Dalam perjalanan pulang, Arfan mengalami kecelakaan dan meninggal.

Dalam kondisi hamil, Aqilla harus berjuang sendirian. Akhirnya karena tidak kuat, Aqilla kembali ke rumah ibunya.

Tak lama kemudian Aqilla melahirkan seorang anak laki-laki. Namun Halimah berbohong bahwa bayinya meninggal. Bayi itu diserahkan Arif dan Yumna, pasangan suami istri yang tidak punya anak. Halimah meminta agar Arif sekeluarga segera meninggalkan Jakarta.

Arif kembali ke Solo kota kelahirannya, dan memboyong keluarga kecilnya kembali ke rumah ibunya. Tentu saja ibu Arif (eyang Murni) sangat senang dengan kehadiran cucunya. 

Setelah 7 tahun berlalu, Aqilla yang tinggal di London mendapat informasi bahwa bayinya masih hidup. Aqilla pun menyusul ke Solo, dan memutuskan tinggal di kota itu untuk mencari anaknya.

Konflik dimulai saat Aqilla sering datang ke rumah Arif untuk menemui Baskara  anaknya. Bahkan sering mengajaknya pergi jalan-jalan.

Arif dan Yumna merasa bersalah karena selama ini telah merebut kebahagiaan Aqilla, dengan memisahkan Baskara dari ibunya. Namun Arif dan Yumna terlanjur cinta dan menganggap Baskara seperti anak mereka sendiri. Begitupun eyang Murni dan mbok Tun sangat menyayangi Baskara.

Adegan yang sangat mengaduk aduk perasaan adalah saat Aqilla meminta Baskara ikut dan tinggal di Jakarta.

Sepanjang perjalanan menuju bandara, Baskara menangis karena tak mau pisah dengan ayah dan ibunya.

Tangisan Baskara menyadarkan Aqilla, yang tidak mau merenggut kebahagiaan Baskara bersama ayah ibunya. Aqilla mengembalikan Baskara kepada Arif dan Yumna.

Aqilla adalah ibu kandung yang melahirkan Baskara. Namun kasih sayang dan cinta Baskara adalah Arif dan Yumna sebagai orang tua angkatnya.

KESAN MENONTON FILM AIR MATA DI UJUNG SAJADAH

Banyak adegan dalam film ini yang membuat terharu. Penonton terbawa suasana dalam film ini, hingga ikut menangis. Terutama adegan perpisahan Baskara dengan orang tuanya, saat dibawa Aqilla ke Jakarta.

Saya suka  settingnya yang sebagian besar adalah kota Solo. Kota Solo adalah  kota budaya di Jawa Tengah. Rumah eyang Murni yang diceritakan ada di daerah Laweyan (daerah kampung batik di Solo), dengan bentuk rumah kayu yang klasik. Tak ketinggalan juga properti dan barang-barang di dalamnya yang masih jadul, bergaya vintage. Selain itu juga setting di sebuah cafe di daerah Tawangmangu (Lawu Park), memanjakan mata penonton dengan view di daerah pegunungan yang apik.

Akting para artis di film ini pun sangat apik. Titi Kamal sangat menjiwai perannya sebagai Aqilla. Pemajn cilik Faqih Alaydrus berhasil memerankan Baskara dengan aktingnya. Demikian juga Jenny Rachman yang sudah lama tidak muncul di perfilman, ternyata sangat pas memerankan eyang Murni yang tegas. Dulu sewaktu muda, Jenny Rachman adalah pemeran film-film remaja pada awal tahun 80 an.

PENUTUP

Pelajaran yang saya dapat dari film ini adalah, seorang anak akan  merasa lebih nyaman dan aman berada di dekat orang yang selama ini merawat dan membesarkannya, walaupun bukan orang tua kandungnya. Dibandingkan dengan orang yang hanya melahirkannya (ibu kandung), namun tak pernah mendampingi dan merawatnya.

Semoga dengan film ini dapat membuka wawasan  sebagai orang tua, untuk selalu merawat, mengasihi, mencintai, mendampingi dan membimbing anak-anak kita hingga dewasa dan mandiri.

Triler film Air Mata di Ujung Sajadah:




Posting Komentar