wahyusuwarsi.com

BUKU "TABIR" YANG MENCERITAKAN TENTANG MENTAL HEALTH



novel tabir
fiksi-novel-tabir
(Gambar: koleksi pribadi)




Temans, kali ini saya ingin mencoba mereview sebuah buku yang baru saja saya baca, sebuah buku berjudul “Tabir.” Buku ini ditulis oleh kak Ika Patte yang menceritakan tentang mental health, kasus yang akhir-akhir ini banyak terjadi di masyarakat dan di semua kalangan. Mental health dapat terjadi pada masyarakat golongan manapun, dari ekonomi tidak mampu, menengah bahkan dari kalangan sosial ekonomi kelas atas.

IDENTITAS BUKU


Judul buku: TABIR

Penulis: Kak Ika Patte

Editor: Anang YB

Proofreader: Tim Stiletto Indie Book

Desain Cover: Tim Stiletto Indie Book

Layout isi: Tim Stiletto Indie Book

Penerbit: Stiletto Indie Book

Nomer ISBN: 978-623-6212-46-2

Tahun terbit: 2021

Genre: fiksi-novel

BLURB

Mera terus mencari kebenaran akan asal usul dirinya demi ketenangan hidupnya. Masa lalunya berkaitan dengan langgam Jawa yang terus didendangkannya, gelang naga Antaboga dan sosok-sosok yang dapat dilihat dalam terang dan gelapnya.

Perjalanan Mera menguak tabirnya perlahan dan perih, mengelupas luka lama Bu Prapti, ibu yang dicintainya. Kepulangan Mera ke kota kelahirannya bukan semata untuk berdamai dengan misteri hidupnya, tetapi juga untuk melepaskan belenggu yang mengikatnya selama ini.

SINOPSIS CERITA

Cerita diawali dengan setting di rumah sakit yang menceritakan seorang wanita bernama Mera yang sedang dirawat di rumah sakit. Selama di rumah sakit itu Mera mengalami kejadian yang tidak wajar. Hatinya merasa tidak tenang, karena Mera selalu dibayangi dan diikuti oleh suara-suara berisik. Suara-suara tangisan, jeritan, desahan dan geraman itu senantiasa mengikutinya kemanapun Mera berada. Mera yang awalnya dirawat di ruang intensive akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan biasa, setelah kondisinya membaik. Perjalanan sepanjang lorong rumah sakit dari ruang intensive ke ruang perawatan ini sangat menyiksa Mera, karena banyak suara-suara berisik yang mengikutinya. Hingga Mera merasa agak tenang setelah tiba di ruang perawatan biasa.

Bila malam tiba Mera tak penah bisa tidur nyenyak. Di kamarnya Mera merasakan kehadiran seorang gadis kecil yang sangat perhatian padanya. Hingga gadis kecil itu berusaha agar Mera segera sehat, dengan menyuapi, menemani dan merawat nya. Namun seringkali Mera juga ketakutan dengan sosok seseorang yang tinggi besar, bercambang, bermata merah yang menakutkan dan selalu mengikutinya.

Sepulang dari rumah sakit, bila malam tiba Mera tetap tidak bisa tidur nyenyak karena banyak sekali suara-suara bising dalam kamarnya. Satu-satunya orang yang bisa menghibur dan menenangkannya adalah sosok Palo. Palo adalah sosok pria yang lembut, penyayang dan sangat perhatian pada Mera. Berdekatan dengan Palo, Mera merasa aman dan nyaman. Palo sering mengajak Mera bercerita, bercanda, menyanyi bahkan berdansa di kamarnya. Dan wajah Mera selalu memerah dan tersenyum layaknya orang yang sedang kasmaran.

Rosma adik Mera dan Bu Prapti ibunya merasa khawatir dengan kondisi Mera. Merekapun menuju kota tempat Mera tinggal dan bermaksud menginap beberapa hari untuk merawat Mera. Namun Bu Prapti merasa tidak tega melihat kondisi Mera yang selalu berhalusinasi, akhirnya beliaupun kembali ke kotanya. Sementara Mera dirawat oleh Rosma adiknya.

Merasa bahwa rumah Mera tidak nyaman untuk penyembuhannya, maka pak Dipo ayahnya meminta agar Mera pulang ke kota kelahirannya, untuk sementara menetap di rumah masa kecilnya hingga pulih kembali.

Di kota kelahirannya iniah Mera berusaha menguak tabir hidupnya. Mera yang selama ini merasa bukan anak pak Dipo, berusaha bertanya kepada ibunya, siapakah bapaknya yang sebenarnya. Karena selama ini Mera merasa bahwa bapaknya tidak pernah memberikan perhatian kepadanya, sedangkan Rosma diberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih.

Dari kecil, Mera selalu mendapat umpatan, siksaan dan pelampiasan kemarahan ibunya. Pernah suatu kali tak sengaja Mera menumpahkan susu di muka Rosma yang masih bayi, seketika itu juga Bu Prapti marah dan mengumpat pada Mera.”Kesialan apa lagi yang akan kau bawa untukku?”

Mera selalu menang di setiap lomba yang diikutinya. Banyak piala dan medali yang sudah didapatnya dan dipajang di almari kamarnya. Namun semua itu sia-sia, karena tak sedikitpun merubah sikap Pak Dipo untuk lebih memperhatikan dan memberikan kasih sayangnya pada Mera. Pak Dipo lebih bersikap tak peduli pada anaknya.

Ada satu peristiwa yang tak dapat dilupakan Mera, yaitu ada suara-suara jahat yang memerintahkan Mera untuk menabrak-nabrakkan kepalanya ke pohon sawo di depan rumah. Mera pun mengikuti perintah itu agar mendapat perhatian dari Pak Dipo, sambil berteriak-teriak memanggil bapaknya. Ya, memang akhirnya Pak Dipolah yang membawa Mera ke rumah sakit, setelah kepala Mera bersimbah darah. Pak Dipo kelihatan menyesal dan dia jugalah yang menunggui anaknya di rumah sakit. Namun hal ini hanya berjalan beberapa waktu saja, Mera tetap belum mendapat perhatian sepenuhnya dari bapaknya.

Dengan gigih Mera selalu bertanya pada Bu Prapti dengan pertanyaan yang sama, siapakah bapaknya? Akhirnya Bu Prapti luluh dan mengatakan bahwa Pak Dipo bukan ayah kandungnya. Ayah kandungnya bernama Romo, namun sudah wafat sejak Mera berumur 7 bulan dalam kandungan ibunya.
Prapti teringat pada masa lalunya.  

Prapti adalah seorang gadis manis yang suka belajar langgam Jawa di keluarga Romo, seorang yang terpandang di kampungnya. Hampir setiap hari Prapti belajar langgam Jawa disana. Seiring berjalannya waktu, Prapti jatuh cinta kepada Romo dan akhirnya mereka berbuat dosa sehingga Prapti hamil.

 Sebenarnya saat itu seorang pemuda bernama Dipo mencintai Prapti yang adalah adik sahabatnya, yaitu Bano. Dipo berjuang mengadu nasib ke kota meninggalkan Prapti. Saat mengetahui Prapti hamil, Dipo pun setuju untuk menikahi Prapti. Tidak mungkin Prapti menikah dengan Romo karena sudah berkeluarga dan merupakan orang terhormat di kampungnya.

Sejak berumah tangga dengan Prapti, Dipo meraas cemburu pada Romo. Dipo mengira bahwa Prapti masih berhubungan dengan Romo, sehingga Dipo jarang pulang dan selalu berbuat kasar pada istrinya. Rumah tangga Dipo dan Prapti tetap bertahan, hingga Mera dewasa.

Setelah dewasa, Mera bekerja freelance menjadi seorang web desainer, yang mempertemukannya dengan jodohnya yaitu Rafie. Mera berharap bahwa Rafie akan menjadi pelindungnya setelah mereka menikah nanti. Namun ternyata sikap dan sifat Rafie tak beda dengan Pak Dipo, selalu bersikap kasar pada Mera bahkan Rafie jarang pulang dan sering mabuk-mabukan. Rafie juga berselingkuh dengan seorang gadis bernama Joana.

Dari kekecewaan, kesedihan dan tekanan-tekanan mental masa kecilnya hingga dewasa inilah yang menyebabkan kesehatan mental Mera terganggu. Rafie merasa bahwa istrinya sudah gila, karena merasa takut padanya bila Rafie mendekat.

Apakah Rafie akan menyadari kesalahannya dan mau menerima kembali Mera? Apakah Mera bisa sembuh dan normal seperti sedia kala? Baca bukunya yuk, temans. Pasti nggak akan kecewa.


KESAN SETELAH MEMBACA BUKU “TABIR” 

Dalam buku ini penulis menuliskan tiap bab dengan POV (Point Of View) yang berbeda-beda, namun alur ceritanya tetap nyambung. Sehingga pembaca tidak dibuat bingung dan masih bisa mengikuti ceritanya hingga akhir.

Mera dilahirkan dengan rasa kecewa dan kebencian oleh ibunya. Dari ayahnya pun tidak pernah mendapat kasih sayang dan perhatian. Bahkan ketika sudah menikah, laki-laki yang diharapkan bisa membahagiakannya malah melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Rasa kecewa yang bertumpuk-tumpuk menimbulkan tekanan dalam jiwa dan perasaannya. Sehingga menimbulkan halusinasi dan tokoh-tokoh khayalan dalam pikirannya (menimbulkan ketidaksadaran). Mera menciptakan tabir masa lalu dan masa kini yang merupakan pembatas semu (Dyah Nirmalawati, dosen FEB Perbanas Institute).

Awalnya saya mengira bahwa genre buku ini adalah horor. Tapi semakin kita ikuti ceritanya, semakin menarik dan penasaran untuk membacanya hingga tamat. Membaca cerita ini, ssya seolah-olah ikut larut ke dalamnya. Larut dalam tokoh di dalam POV tersebut. Setiap karakter tokoh dituliskan dengan detail dan rinci, sehingga kita bisa ikut membayangkan bagaimana tokoh tersebut bila ada di dunia nyata.

Tokoh utama yaitu Mera, mempunyai sifat pendiam, mengalah dan patuh. Dia tak pernah mengeluh dan selalu menerima apapun perlakuan orang-orang di sekitarnya. Namun hal inilah yang membuatnya tertekan dan merusak keehatan mentalnya.

Saya suka tokoh Rosma yang digambarkan sangat menyayangi kakaknya, dengan sabar merawat kakaknya yang sedang terkena gangguan mental.

Sedangkan tokoh Bu Prapti saya kurang begitu suka, karena sikapnya yang tidak jujur. Selama ini Bu Prapti tidak mau jujur mengatakan siapakah bapak kandung Mera. Merahasiakannya bertahun-tahun hingga Mera mengalami gangguan mental.

KESIMPULAN

Buku ini sangat menarik dan saya merekomendasikan untuk dibaca terutama oleh para orang tua yang mempunyai putra putri menjelang remaja dan dewasa.

Dari buku ini kita bisa belajar bagaimana mencegah agar anak-anak kita terhindar dari gangguan mental. Sebagai orang tua hendaknya kita bersikap bijaksana terhadap anak-anak kita.

Nah, temans itulah sedikit ulasan ssaya tentang buku TABIR yang ditulis kak Ika Patte.

Semoga bermanfaat.

2 komentar

  1. Wah, baru tahu bu ada buku fiksi yg membahas kesehatan mental tp alir ceritanya sebagus ini.. Bagus bgt sepertinya😀

    BalasHapus
  2. Waaah, ini yang sudah ku incer² nin..

    BalasHapus