wahyusuwarsi.com

MENIKMATI TRANSPORTASI UMUM (BRT) TARIF SERIBU RUPIAH BAGI LANSIA



Bus BRT Semarang

Seiring dengan bertambahnya usia, saya makin merasa cepat lelah dalam beraktivitas. Begitupun dengan bepergian dan berkegiatan dalam sehari. Kegiatan sosial, kegiatan sebagai blogger dan kegiatan lain seringkali membutuhkan tempat yang berpindah, dari satu tempat ke tempat lain. Dulu saat umur belum lansia masih bisa mengendarai kendaraan sendiri, namun saat ini saya mulai mengurangi berkendara sendiri. Bukan pensiun, tetapi hanya kadang-kadang untuk jarak yang tak terlalu jauh masih bisa menyetir sendiri. Saat ini untuk jarak yang agak jauh saya cenderung lebih sering naik transportasi umum, baik itu angkot (angkutan kota) atau Bus Rapid Transit (BRT), yang dulu namanya adalah bis kota.

BRT DENGAN TARIF RP 1.000 UNTUK LANSIA

Di kota Semarang, rumah saya ada di daerah atas. Untuk beberapa keperluan saya harus turun ke kota bawah, bila di kota atas belum tersedia barang yang saya butuhkan, maupun fasilitas lain yang mengharuskan saya turun ke kota bawah. Jaraknya lumayan juga bila ditempuh dari rumah saya, bisa memakan waktu 30 menit lebih.

Pemerintah kota Semarang menyediakan fasilitas BRT untuk masyarakat dengan tarif Rp 3.500 untuk umum. Sedangkan tarif khusus Rp 1.000 diperuntukkan bagi pelajar, mahasiswa dan lansia (60 tahun ke atas). Dengan menunjukkan kartu pelajar, kartu mahasiswa atau KTP, tarif khusus ini sudah bisa didapatkan.

Tiket BRT (Trans Semarang)
tiket-brt-untuk-lansia
(Gambar: kumparan.com)

Di dalam BRT penumpang diberi fasilitas agar lebih nyaman. Ada tempat duduk khusus disabilitas dan lansia. Kemudian penumpang laki-laki diwajibkan duduk atau berdiri di bagian depan, sedangkan penumpang wanita ada di bagian belakang. AC dalam bus juga selalu dinyalakan agar tidak gerah. Selain BRT, penumpang bisa melanjutkan perjalanan dengan mobil feeder yang lebih kecil (kurang lebih hanya berisi 20 penumpang), tanpa dipungut biaya lagi.

Dalam jarak waktu tiap 10 menit, armada BRT berhenti di halte secara bergantian, dengan berbagai rute (jurusan). Dan halte yang tersedia juga mencukupi di tengah kota maupun di pinggiran kota (Gunungpati, Mijen, Mranggen, Penggaron, Banyumanik, Ungaran dan rute lainnya).

Tiket BRT bisa dibeli secara tunai di halte pemberangkatan maupun menggunakan Qris (kartu elektronik) untuk pembayaran non tunai. Pada tiket lansia terdapat tulisan “Reguler Lansia” Rp 1.000. Bila transit atau pindah jurusan menggunakan BRT lain maupun feeder, tidak akan dipungut biaya lagi, namun hanya menunjukkan tiket yang telah dibeli sebelumnya.

MANFAAT DAN KEUNTUNGAN NAIK TRANSPORTASI UMUM

Naik transportasi umum sangat bermanfaat untuk menjaga lingkungan. Mengapa demikian? Di bawah ini ulasan beberapa manfaat bila kita naik transportasi umum.
  1. Saat ini semakin banyak kendaraan (mobil maupun motor) yang melintas di jalan. Adanya transportasi umum tentu saja akan mengurangi kemacetan di jalan karena jumlah kendaraan berkurang. Bayangkan, satu bus bisa mengangkut banyak orang. Sedangkan satu mobil biasanya ditumpangi hanya satu orang, atau paling banyak tiga orang.
  2. Manfaat naik transportasi umum lebih irit biaya. Ini sekarang benar-benar saya rasakan. Yang dulunya harus beli BBM untuk mobil, sekarang naik BRT hanya butuh Rp 1.000 sekali jalan. Paling banyak Rp 20.000 bila disambung dengan angkot sampai ke tempat tujuan.
  3. Bila membawa mobil sendiri saya harus repot mencari tempat parkir yang kadang terlalu ramai atau padat. Dengan adanya transportasi umum ini, saya tak perlu memikirkan soal parkir lagi.
  4. Lebih ramah lingkungan karena mengurangi jejak karbon. Seperti kita ketahui gas CO yang dihasilkan dari knalpot dapat menimbulkan polusi dan mengganggu kesehatan.
  5. Naik transportasi umum (BRT) bisa lebih santai dan tak perlu tegang menyetir di jalan yang padat lalu lintas. Mungkin di dalam BRT bisa dimanfaatkan dengan membaca, mendengarkan musik atau duduk manis menikmati perjalanan hingga sampai ke pemberhentian berikutnya (ke tujuan).
  6. Di dalam transportasi umum akan bertemu banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelajar, pegawai, pedagang dan sebagainya, sehingga harus pandai menyesuaikan diri.
  7. Melatih kaki agar tidak mager (malas gerak) dan meningkatkan aktivitas berjalan kaki. Karena bila naik BRT tentunya harus berjalan dari satu halte ke halte yang lain yang kadang-kadang membutuhkan aktivitas jalan kaki.
  8. Menggunakan transportasi umum juga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang tentunya juga bisa mengurangi penggunaan bahan bakar.

PENGALAMAN NAIK BRT

Beberapa kali naik BRT hingga saya hafal rute dan nomor bus yang harus dituju. Saat turun ke kota bawah dengan tujuan ke sebuah hotel di jalan Pemuda untuk suatu kegiatan, hanya butuh biaya Rp 1.000. Dari halte di daerah Banyumanik saya naik BRT no K02 menuju balai kota (Jl Pemuda) dan langsung turun di depan hotel tempat acara.

Perjalanan pulang, naik BRT dari balai kota, transit di halte RS Elisabeth kemudian ganti feeder dengan rute Undip (daerah atas). Dari Undip turun di Muladi Dome lalu jalan kaki ke rumah (kira-kira hanya 500 meter). Sangat mengirit biaya.

Demikian juga pengalaman naik BRT ke jl Gajahmada untuk menghadiri acara blogger gathering di sebuah hotel. Dari halte Banyumanik naik BRT, transit di pasar Kagok kemudian naik rute ke Jl Gajah mada dan turun di halte depan hotel acara berlangsung. 

Naik BRT juga membuat saya lebih disiplin waktu. Karena mau tidak mau harus mempersiapkan diri lebih awal 1 jam atau 2 jam sebelumnya. Karena naik BRT juga membutuhkan waktu untuk berpindah dari satu halte ke halte yang lainnya.

Itu tadi ulasan dan pengalaman saya tentang transportasi umum BRT. Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang membacanya.
‹ Lebih lamaTerbaru ✓

Posting Komentar