wahyusuwarsi.com

REPOTNYA BILA IBU SAKIT



Sakit?? Waduuh... jangan dech. Kalau bisa ya mintanya sehat terus sama Allah SWT.
Sebagai ibu saya tahu, bahwa suami dan anak berharap agar saya selalu sehat. Mengapa?
Alasannya, kalau ibu sakit, siapa yang ngurusin mereka? Siapa yang masakin mereka, dan masih banyak lagi alasan-alasan lain yang tidak mengizinkan ibunya ini sakit.

Saya pernah baca kalimat seperti ini:
Bila anak sakit ... ibulah yang merawat.
Bila suami sakit ...istrilah yang merawat.

Tapi bila ibu sakit, siapa yang merawat? Ya dirinya sendiri lah yang merawat. Berusaha untuk terlihat tegar dan sehat, tetap menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu.

Menunggu anak yang sakit
seorang-ibu-sedang-menunggu-anaknya-yang-sakit
(Gmbar: AI bing image creator)


PENGALAMAN DISAPA OMICRON

Ini pengalaman saya dan keluarga saat covid melanda. Tahun 2021 kami sekeluarga sempat disapa omicron.

Awalnya yang disapa omicron adalah anak sulung saya yang bekerja di bank. Teman-teman kantornya banyak yang terpapar virus covid. Si sulung membawa omicron ke rumah, berkenalan dengan kami bapak, ibu dan adiknya. Jadilah kami anteng isolasi mandiri, selama 2 minggu di rumah saja.

Gejala awal sih biasa saja seperti flu. Tapi dari hari ke hari badan rasanya lemas, pusing, panas dan batuk pilek.

Alhamdulillah, saya hanya merasakan gejala yang agak berat pada 2 hari pertama. Selebihnya, saya sudah bisa beraktivitas lagi walaupun di rumah saja.
Suami dan kedua anak saya mengalami gejala yang agak berat hingga seminggu lamanya. Demam, pusing dan batuk tak kunjung reda.

Bersyukur sekali saya sudah bisa beraktivitas, dan gejala-gejala tersebut sudah banyak berkurang. Jadi ... kembali lagi ke kalimat di atas, "anak dan suami sakit, ya ibu yang merawat." Saya bisa merawat suami dan anak-anak bahkan sudah bisa memasak untuk mereka. Bahan makanan dan sayuran kami nitip tetangga, diletakkan (dicantolkan) di pagar rumah.

Pernah dengar kalimat ini nggak? 
"Jadi ibu itu harus kuat, ibu itu nggak boleh sakit."
Kalimat inilah yang menjadikan saya mempunyai kekuatan dan tekat, saya harus sembuh dan sehat. Saya nggak boleh sakit, apapun dan bagaimanapun keadaannya. Seperti tiba-tiba saya punya kekuatan super power (bukan power ranger lho).

Bisa bayangkan nggak, seandainya saya juga tepar berhari-hari, lantas siapa yang ngurusin suami dan anak-anak. Padahal kami sedang menjalani isolasi mandiri dan tidak boleh ketemu orang.

Akhirnya 2 minggu setelah menjalani isolasi mandiri, kami di swab dan hasilnya negatif. Kami dinyatakan bebas dan sembuh covid. Alhamdulillah.

PENGALAMAN MENJAGA ANAK DI RUMAH SAKIT

Satu lagi pengalaman saya ketika menunggu anak bungsu operasi amandel, tahun 2016 yang lalu.
Anak bungsu susah bernafas karena amandel membesar. Gejala awalnya, dia sering mengalami radang tenggorokan dan panas tinggi. Selain itu anak saya kalau bernapas selalu lewat mulut, karena kesulitan napas lewat hidung. Waktu itu anak saya duduk di kelas 5 SD. Keputusan dokter, anak saya harus segera diambil amandelnya agar tidak mengganggu.

Jadilah anak saya operasi, dan tentu harus mondok di rumah sakit kan? Saya pun harus siap 24 jam menunggu (ikut menginap) di rumah sakit. Karena ngga ada bed tambahan, terpaksa saya harus tidur di lantai beralaskan tikar. Tapi ya ngga apa lah, namanya juga demi nungguin anak.

Awalnya, dinginnya AC dan lantai rumah sakit tak terasa di badan yang sudah lansia ini. Hari pertama, hari kedua, badan masih terasa sehat. Ternyata usia tidak bisa bohong ya. Di hari ke-3 badan saya rasanya mulai nggak karuan. Kalau orang Jawa bilang "gemreges" atau bahasa umumnya yaitu "meriang." Saya mulai was-was, migrain mulai menyerang, rasa mual sebentar-sebentar mulai datang. Untung saja anak saya sudah boleh pulang hari ini, dan tinggal recovery di rumah.

Malam hari sesampai di rumah, badan saya demam, kepala migrain dan perut mual. Wah, lha kok gantian saya yang sakit? Dalam hati saya bertekat, saya nggak boleh sakit. Seorang ibu harus selalu strong dan healthy. Akhirnya saya minum obat penurun demam, setelah itu istirahat tidur. Sementara anak saya tidur ditunggui ayahnya.

Tekat saya, besok saya harus sudah sembuh dan harus bisa aktivitas lagi untuk mengurus si bungsu dan tugas domestik tentunya. Nggak bisa membayangkan juga seandainya saya sebagai ibu diberikan ujian sakit.

Alhamdulillah, ternyata doa saya diijabah Allah SWT. Pagi- pagi bangun tidur badan dan kepala rasanya sudah enteng. Saya sudah sembuh dan sehat lagi.

Saya sharing pengalaman ini kepada pembaca, agar setiap ibu punya mindset harus sehat, harus kuat dan tidak boleh lemah. Demi membersamai dan membimbing anak-anak, demi mendampingi suami bersama-sama mendidik anak. Tak lupa juga, tentunya demi tugas domestik yang tak pernah ada habisnya (curcol ... hehehe).

Tapi sejauh ini saya sangat bersyukur pada Allah SWT yang senantiasa menjaga saya, yang selalu memberi nikmat kesehatan hingga bisa mengurus keluarga, mendampingi suami dan membersamai anak-anak kami.
Semoga tulisan ini bermanfaat.



Posting Komentar