wahyusuwarsi.com

"GADIS KRETEK" FILM TENTANG PERSAINGAN BISNIS KRETEK ERA 1960


Gadis Kretek


PROFIL FILM

Film yang ditayangkan Netflix ini termasuk film peringkat teratas, dengan 5 episode yang masing-masing berdurasi 40-70 menit, film ini sangat memukau penonton untuk tak beranjak menyaksikan hingga selesai, kelima episode tersebut adalah:

  1. Episode 1 dengan judul Jeng Yah.
  2. Episode 2 dengan judul Mawar.
  3. Episode 3 dengan judul Merah.
  4. Episode 4 dengan judul DR (Djagat Raya).
  5. Episode 5 dengan judul Kretek Gadis.

Diproduksi oleh Base Entertaintment, dengan sutradara peraih Citra yaitu  Kamila Andini dan Ifa Isfansyah, dengan produser Fauzan Nurdin. Film Gadis Kretek diambil dari novel karya Ratih Kumala yang terbit pada tahun 2012.

Pemeran film Gadis Kretek adalah Dian Sastrowaroyo sebagai Dasiyah (Jeng Yah), Ario Bayu sebagai Soeraja, Putri Marino sebagai dokter Arum, Arya Saloka sebagai Lebas (anak Soeraja), Rukman Rosadi sebagai Idroes, Verdi Soelaiman sebagai Djagad, Ine Febriyanti sebagai istri Idroes, Tisa Biani, Visa Dara, Winky Wiryawan, Aditya, Tuti Kirana, Nungki Kusumastuti, Ibnu Jamil.

SINOPSIS

Diawali dengan adegan Soeraja yang sedang sakit kanker, dan tiba-tiba berteriak-teriak memanggil nama seorang wanita di masa lalunya, nama wanita itu Jeng Yah. Soeraja meminta pada anaknya Lebas, untuk mencari wanita itu karena dia merasa waktunya tidak lama lagi. Dia ingin bertemu dengan Jeng Yah dan ingin meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu.

Berbekal foto yang diberikan oleh  ayahnya, Lebas berusaha mencari informasi tentang Jeng Yah. Lebas pun berangkat ke Jawa Tenagh yaitu ke kota M. Di kota M atau tepatnya di museum kretek, Lebas bertemu dengan dokter Arum yang ternyata adalah anak dari donatur terbesar museum kretek tersebut. Mereka berdua kemudian mencari bukti-bukti berupa surat yang ditulis oleh Jeng Yah dan Soeraja di museum tersebut. Dari surat-surat di masa lalu itu keduanya berusaha mencari hubungan dan latar belakang keluarga mereka.


Arum dan Lebas
Arum-dan-Lebas
(Gambar: Netflix.com)


Alur film ini maju mundur antara 2 periode waktu yaitu era 1960 an dan era 2000 an. 

Kembali ke era 1960, diceritakan bahwa keluarga Idroes adalah pengusaha kretek yang sukses di jamannya, dengan produksi kretek Merdeka. Idroes mempunyai 2 orang anak perempuan yaitu Dasiyah (biasa dipanggil Jeng Yah) dan adiknya Rukayah. 


Roemaisa, Jeng Yah dan Idroes
Roemaisa-Dasiyah-Idroes
(Gambar: Netflix.com)



Rukayah dan ibunya
Rukayah-dan-ibunya
(Gambar: Netflix.com)


Jeng Yah sangat tertarik dengan bisnis kretek, karena itu Jeng Yah ditunjuk menjadi mandor di pabrik kretek ayahnya. Jeng Yah sangat ingin menjadi peracik saus kretek, namun saat itu ada diskriminasi bahwa wanita hanya boleh menjadi pelinting saja. Karena itu, oleh pak Dibyo peracik saus kretek merdeka, Jeng Yah dilarang masuk ke ruang racikan saus. Menurut Dibyo, kretek nya akan berbau asam bila yang meracik saus adalah wanita.

Ada 4 hal yang diingat Jeng Yah dalam hidupnya yaitu:

1. Tekstur cengkeh.

2. Aroma tembakau yang kuat.

3. Suara bapak memanggil saya.

4. Dunia kretek yang menjadi napas hidup saya.

Ya, Jeng Yah mempunyai mimpi untuk menciptakan kretek terbaik dan menciptakan saus. Dia bertekat mewujudkan impiannya itu.

Saat itu ada pengusaha kretek Proklamasi (Pak Djagat) yang selalu berusaha untuk menyaingi produk kretek Merdeka. Dia menggunakan berbagai cara untuk menjatuhkan usaha kretek Merdeka. Awalnya Idroes dan Djagat berteman baik, namun dalam segala hal Idroes selalu menang termasuk bersaing memperebutkan Roemaisa (diperankan Sha Ine Febriyanti) yang sekarang menjadi istrinya.

Seiring berjalannya waktu, Jeng Yah jatuh cinta pada Soeraja yang dikenalnya di pasar. Soeraja adalah mandor yang menggantikan Jeng Yah di pabrik kretek Merdeka. Jeng Yah merasa bahwa Soeraja bisa membantunya mewujudkan impiannya, membantu mendobrak diskriminasi di pabrik kretek. Begitupun Soeraja merasa kagum akan ketangguhan Jeng Yah untuk mewujudkan mimpi menjadi peracik kretek terbaik. Namun kisah cinta keduanya tidak direstui orang tua Jeng Yah, karena perbedaan status sosial hingga Soeraja diusir dari rumah itu. Kemudian Jeng Yah dijodohkan dengan Seno Aji, anak pengusaha kretek Balut Kelapa. Seno Aji bertugas sebagai TNI AD.


Dasiyah dan Soeraja
Jeng-Yah-dan-Soeraja
(Gambar: Netflix.com)


Setelah diusir dari rumah Idroes, Soeraja bekerja pada pabrik kretek Merah, yang pada waktu itu dianggap sebagai bagian dari sebuah partai terlarang (Partai Merah). Pada akhirnya rokok Merah dibubarkan dan banyak anggotanya yang tertangkap, namun Soeraja belum menyadari bahwa kretek Merah terlibat partai terlarang.

Ternyata Djagat sangat licik, memfitnah dan melaporkan bahwa Idroes masuk daftar anggota di partai tersebut. Idroes dan keluarganya ditangkap. Di depan mata anak dan istrinya, Idroes dibunuh, sementara Jeng Yah dipenjarakan selama 2 tahun. Roesmaira dan Rukayah berhasil disembunyikan di rumah Seno Aji.

Kemudian Soeraja bekerja pada Djagat dan menikahi Purwanti putrinya. Djagat memerintahkan Soeraja untuk mencuri saus racikan Jeng Yah yang seharusnya untuk "Kretek Gadis," kemudian digunakan untuk racikan  kretek DR (Djagat Raya).

2 tahun kemudian setelah Jeng Yah bebas dari penjara, Seno Aji menikahinya. Dari hasil pernikahan itu lahirlah Arum seorang bayi mungil yang cantik. Seno Aji tak sempat menunggui kelahiran anaknya karena gugur dalam tugas. Tak lama kemudian Jeng Yah pun wafat karena penyakit yang diderita selama di penjara. Padahal sebelumnya Jeng Yah sempat bertemu Soeraja dan berjanji untuk menemuinya di stasiun. Namun niat itu tak pernah kesampaian, karena Jeng Yah wafat.

Sejak saat itulah Soeraja tak pernah lagi bertemu Jeng Yah. Hingga Soeraja sukses menjadi pengusaha rokok, dan berputra 3 orang (Karim, Tegar dan Lebas) dari pernikahannya dengan Purwanti.

Dari hasil penyelidikan Arum dan Lebas,  akhirnya terungkap bahwa Arum adalah anak Jeng Yah yang selama ini dirawat oleh Rukayah adik Jeng Yah. Selama ini Arum hanya tahu bahwa Jeng Yah adalah budenya. Akhirnya Soeraja berhasil bertemu Arum dan diantar ke makam Jeng Yah.

REVIEW FILM GADIS KRETEK

Alur film yang maju mundur antara 2 periode yaitu era 1960 dan era 2000,  disajikan dengan sangat menarik. Dalam film ini penonton seolah-olah  dibawa bernostalgia  kembali ke masa lalu (era tahun 1960 an). Film Gadis Kretek kaya dengan budaya, sosial dan sejarah Indonesia.

Dengan film ini kita jadi tahu bagaimana kehidupan para pekerja di pabrik rokok kretek. Selain itu juga kita bertambah pengetahuan tentang adanya saus racikan untuk rokok kretek. Dalam film ini juga diungkapkan masih adanya diskriminasi wanita di balik  racikan saus kretek.  Wanita hanya dianggap  sebagai icon macak (dandan), masak dan manak (melahirkan) saja. Karena itu wanita tidak boleh dan tidak pantas menjadi peracik saus kretek, wanita hanya boleh menjadi pelinting rokok. Wanita dianggap tak pantas mengerjakan pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh pria saja. Hal inilah yang ingin didobrak Jeng Yah, bahwa bila diberi kesempatan wanita  punya kepandaian yang sama dengan para pria dalam hal meracik saus kretek.

Kita juga bisa menyaksikan adanya sejarah dalam film ini yaitu masa penumpasan Gerakan 30 September 1965. Pada masa itu ada 6 jenderal dan 1 perwira yang dibunuh dan dibuang ke Lubang Buaya. Di film ini, dikaitkan dengan Partai Merah yang juga memproduksi rokok kretek "Merah," yang ditunjukkan dengan adegan menghilangnya dan ditangkapnya orang-orang yang masuk dalam daftar Partai Merah (termasuk Idroes dan keluarganya yang difitnah masuk dalam daftar).

Penonton diajak dan diperkenalkan dengan bangunan bersejarah antara lain stasiun Tuntang (yang menjadi tempat  pertemuan terakhir Jeng Yah dan Soeraja). Selain itu juga ada los pengeringan  mbako (tembakau) di daerah Klaten yang dipakai untuk shooting. Penonton juga diajak mengenal Museum Kretek di kota Kudus. Tetapi setting di film ini  museum kretek ada di kota M (Muntilan) sebagai pusat tembakau. Properti di film ini sangat detail dan mirip sekali dengan aslinya. Hampir semuanya bergaya vintage. Begitu juga dengan editing gambar film dengan warna-warna vintage, sangat pas dan cocok untuk era tahun 1960 an.

Dari pakaian yang dipakai Jeng Yah dan ibunya, menunjukkan ciri khas kebaya yang dipakai oleh orang-orang kaya pada era 1960 an. Demikian pula baju yang dipakai Idroes dan Djagat, setelan jas khas pakaian orang kaya. Sementara pakaian yang dipakai oleh Soeraja adalah pakaian yang dipakai rakyat biasa.

Lagu pengiring atau soundtrack dalam film ini berbeda-beda dalam setiap adegan dan episode, sehingga dapat membawa emosi penonton ke dalam adegan yang sedang ditayangkan. Soundtrack dalam film ini antara lain Kala Sang Surya Tenggelam (lagu Chrisye) dibawakan oleh Nadin Amizah, Bandar Jakarta oleh Sundari Sukoco, Rindu Lukisan oleh Hendri Rotinsulu, Tiga Dara oleh Aimee Saras dan Bonita dan beberapa lagu di era 1960 an.

Para pemeran utama (Dian Sastro dan Ario Bayu) sangat menjiwai perannya sebagai Jeng Yah dan Soeraja. Mereka berhasil membangun chemistry satu dan lainnya, terutama pada adegan romansa antara Jeng Yah dan Soeraja tampak hidup (sehingga terkesan agak vulgar).

Menurut saya, hal inilah yang agak disayangkan. Karena film ini berlabel untuk 13 tahun ke atas, tapi mengapa harus ada adegan romansa yang agak vulgar antara Jeng Yah dan Soeraja. Padahal saat baca novelnya, penulis tidak menggambarkan adanya adegan tersebut.

Berikut ini adalah video trailer Gadis Kretek dari Netflix:




PENUTUP

Secara keseluruhan film 5 episode dari Netflix ini termasuk film yang bagus, diantara film lain yang pernah saya tonton. Film dengan nilai budaya, sosial dan sejarah. Film yang memperkenalkan sejarah dan seluk beluk dunia industri kretek di Indonesia. Demikianlah temans, ulasan saya tentang film Gadis Kretek.

Yuk, silahkan temans nonton di Netflix film Gadis Kretek ini. Semoga tulisan ini bermanfaat.




















Posting Komentar