wahyusuwarsi.com

PESONA GOA KREO

 

Di daerah Gunung Pati Semarang ada satu tempat wisata yang menarik, tepatnya di jl Raya Goa Kreo Kandri. 

Ada yang pernah dengar Goa Kreo? Nah ini adalah salah satu tempat wisata yang menarik bagi pengunjung. Apanya yang menarik sih? Salah satunya adalah, di sana banyak kera liar yang dibiarkan hidup bebas. Dari mulai jalan masuk ke tempat wisata, banyak kita dijumpai kera-kera tersebut sepanjang jalan.

Tiba di pintu gerbang, kita diminta membayar tiket Rp 6.500 per orang. Oya, Wisata Gua Kreo buka dari jam 08.00 hingga jam 16.00.

Waah, di tempat parkir kita sudah disambut kera-kera yang langsung mendekat. Awalnya saya sempat takut, tapi ternyata kera-kera tersebut tidak begitu buas. Mereka akan menyerang kita, kalau merasa terganggu.

Lucu juga melihat tingkah laku kera-kera itu. Ada yang menggendong dan menyusui anaknya, ada kera yang rebutan kacang yang diberikan pengunjung, ada juga yang saling mencari kutu pasangannya 😆😆



Tingkah laku kera di Goa Kreo
Foto: doc pribadi


SITUS WATU LUMPANG

Di tempat parkir akan kita jumpai Situs Watu Lumpang. Menurut cerita penduduk setempat, Watu Lumpang merupakan situs yang menjadi bagian sejarah leluhur masyarakat sekitar Gua Kreo. Situs ini menjadi bagian sejarah penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga.

Awalnya adalah pemerintah akan membangun Waduk Jatibarang, pembangunan ini akan menenggelamkan lahan di sekitar Gua Kreo. Masyarakat merasa prihatin karena akan kehilangan petilasan cikal bakal desa. Kemudian oleh masyarakat Desa Kandri dibantu kelompok seniman, diangkutlah Watu Lumpang yang letaknya ada di lahan milik warga Siwarak ke area parkir tempat wisata ini, pada bulan April 2010 agar tidak tenggelam setelah waduk diisi air, melalui "Upacara mboyong Watu Lumpang."

Situs watu lumpang
Foto: doc pribadi


LEGENDA GUA KREO

Keluar dari area parkir akan dijumpai patung kera raksasa, yang di bawahnya tertulis Legenda Gua Kreo.

Menurut legenda, kisah tentang Sunan Kalijaga yang sedang mencari kayu jati untuk saka masjid Demak. Dalam perjalanannya, Sunan Kalijaga menemukan kayu jati, yang kemudian dipotong dan dihanyutkan ke sungai menuju Demak. Tetapi usaha untuk menghanyutkan kayu itu selalu gagal, karena kayu terjepit bebatuan.

Sunan Kalijaga melakukan tafakur di gua dan memohon kepada Alloh swt. Saat itu datang sekawanan kera yang diantaranya berwarna merah, hitam, putih, kuning, kera-kera itu membantu menghanyutkan kayu ke sungai. Setelah berhasil, kera-kera tersebut ingin mengikuti Sunan tetapi Sunan Kalijaga memerintahkan agar mereka tidak ikut dan menjaga kayu-kayu tersebut (mangreho). Sedangkan  Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan ke Demak. 

Kata "KREO" berasal dari "MANGREHO" yang artinya peliharalah atau jagalah. Dari kata Mangreho oleh masyarakat kemudian disebut "GUA KREO."

Sumber dari Google, dalam tulisan di patung kera itu ditulis bahwa nilai spiritual dapat dirangkum dalam 3 aspek:

*Hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

*Hubungan manusia dengan manusia.

*Hubungan manusia dengan alam.

Patung prasasti legenda Gua Kreo
Foto: doc pribadi





JEMBATAN KREO & WADUK JATIBARANG

Melanjutkan perjalanan dengan menuruni anak tangga yang lumayan jauh, tampak di bawah ada jembatan merah. Jembatan merah ini merupakan akses penghubung menuju gua. Sebelumnya akses menuju gua berupa jalan yang sempit dengan kiri dan kanan adalahbtebing yang curam, dengan kedalaman 70 meter.

Menurut Wikipedia, Gua Kreo adalah gua alam yang berada di tengah-tengah Waduk Jatibarang, yaitu sebuah bendungan yang membendung Sungai Kreo.

Waduk Jatibarang dibangun dalam waktu 4 tahun. Pengisian air dimulai tanggal 5 Mei 2014 bertepatan dengan Hari Air Dunia ke 22. Kemudian resmi beroperasi tanggal 11 Mei 2015 bertepatan dengan Peringatan Hari Air ke 23 tingkat Provinsi Jateng.

Area waduk meliputi 4 kelurahan dari 2 kecamatan yaitu:

Kelurahan Kandri dan Kelurahan Jatirejo di Kecamatan Gunungpati.

Kelurahan Kedungmundu dan Kelurahan Jatibarang di Kecamatan Mijen.

Luas area perairan ini adalah 189 hektar.

Dibangunnya waduk ini disebabkan karena terjadinya banjir di Semarang yang membawa korban jiwa yaitu tahun 1973,1988, 1990 dan 1993.

Fungsi Waduk Jatibarang adalah:

*Untuk mengendalikan banjir.

*Menyediakan air di wilayah Semarang Barat dengan debit 1.050 liter/detik.

*Untuk meningkatkan kelestarian.

*Fungsi konversasi di Daerah Aliran Sungai (DAS).

*Sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan kapasitas 1,5 kW.

Waduk Jatibarang
Foto: doc pribadi




Jembatan Kreo
Foto: doc pribadi


Gua Kreo
Foto: dari Google


Fasilitas-fasilitas yang ada di Gua  Kreo antara lain: Kamar Mandi, mushola, area parkir.

Jadi sambil berwisata ke Gua Kreo kita juga bisa mengetahui sejarah penyebaran Agama Islam, karea itu mari kita ajak anak-anak kita wisata alam ke gua ini sambil belajar sejarah.


5 komentar

  1. Aku sering mendengar/membaca cerita keasyikan berkunjung ke goa kreo ini mna..tapi blm menggugah ku utk datang ke sana. Kenapa? tal lain karena...monyet!! hsha..iya mba, aku takut dg monyet..lihat foto di sini saja merinding euy.. haha.. ingat pengalaman ke Sangeh, aku berdiam dalam bis krn takut monyet juga 😁

    BalasHapus
  2. Saat masih bekerja di Semarang. Tepatnya sebelum pandemi. Aku pernah berkunjung ke Gua Kreo. Lokasinya agak jauh dari tempatku tinggal di Pandanaran. Tapi kebayar sama bagusnya view yang disajikan.
    Aku ke sananya pake motor sendiri. Waktu itu rental motor. Hehehe

    BalasHapus
  3. Aku kok takut sama monyet ya? Pernah barangku diambil monyet ga balik lagi tuh kek bikin trauma gitu

    BalasHapus
  4. Hahahha...ternyata masih ada monyetnya yah, udah lama gak main kesana. Terimakasih infonya yah mbak, bisa nih ajak ponakan maen kesana.

    BalasHapus
  5. Terima kasih sudah mampir ke blog saya mbak-mbak cantik.

    BalasHapus