Buku bergenre fiksi sejarah (hisfic) ini diterbitkan oleh penerbit Elex Media pada tahun 2016 dengan tebal 369 halaman, yang merupakan karya Ruta Sepetys dan diterjemahkan oleh Putri Septiana Kurniawati. Membaca buku ini tak cukup hanya sehari. Sampul buku dengan desain menarik ini yang awalnya membuat saya penasaran untuk membacanya. Ditambah lagi setelah membaca review-review tentang buku ini, hingga memutuskan untuk membelinya.
Buku ini berlatar belakang PD II di Prusia Timur pada tahun 1945. Dan menceritakan tragedi tenggelamnya kapal megah Wilhelm Gustloff di Laut Baltik pada tanggal 30 Januari 1945. Kapal itu ditembak torpedo Soviet dan ada kurang lebih 9.000 orang penumpang yang meninggal.
Sebagian orang tidak pernah mendengar bencana kapal Wilhelm Gustloff, seperti bencana pada Titanic dan Lusitania. Padahal korbannya melebihi kedua kapal tersebut. Tenggelamnya kapal Wilhelm Gustloff adalah bencana mematikan dalam sejarah maritim.
SINOPSIS
Buku novel ini ditulis dalam 4 POV berbeda. Awalnya saya sempat bingung membedakan alur cerita dan tokoh-tokoh di dalam buku ini. Tetapi setelah mengikuti ceritanya, pembaca lama-lama merasa tertarik dan mudah mengikuti alur ceritanya.POV pertama (1) adalah Joana, seorang berlatar belakang perawat warga Lithuania.
POV kedua (2) adalah Emilia , yakni seorang gadis berusia 15 tahun yang sedang hamil, berasal dari Polandia.
POV ketiga (3) adalah Florian Bek, yakni seorang tentara Prusia yang kabur dari NAZI.
POV keempat (4) adalah Alfred, yakni anggota prajurit NAZI yang nantinya akan menolong Joana, Emilid dan Florian untuk naik ke kapal Wilhelm Gustloff.
Beberapa tokoh pendukung lain dalam kisah ini adalah:
Ingrid seorang gadis buta yang meninggal terperosok di danau es saat mereka melarikan diri menuju pelabuhan Gotenhafen. Eva, seorang wanita berusia 50 tahun yang badannya tinggi besar. Ada juga Heinz, si tukang sepatu yang mendapat julukan Sang Pujangga, dan selalu memberikan nasehat-nasehat bijaknya pada pengungsi lain. Dan Klaus seorang anak yang disebut sang pengembara, yang sangat dekat dan akrab dengan Heinz si tukang sepatu. Kemanapun pergi mereka selalu terlihat berdua, Heinz seperti kakek bagi Klaus.
Banyak kisah sedih dalam buku ini yang membuat terharu pembaca. Cerita perjalanan para pengungsi menuju pelabuhan Gotenhafen. Mereka hendak naik kapal Wilhelm Gustloff dan melarikan diri ke tempat yang lebih aman. Kapal ini adalah kapal megah yang menjadi tempat mereka menggantungkan harapan bersama ribuan penumpang lainnya.
Ada beberapa kisah yang menarik dalam buku ini, antara lain kisah gadis buta bernama Ingrid yang ikut serta dalam pelarian ini. Gadis ini sangat dekat dengan Joana. Ketika mereka melintas di danau es, Ingrid hanya menggunakan instingnya untuk merasakan apakah es sudah mencair atau masih kuat untuk dilalui. Dan ternyata saat Ingrid melintasi danau es itu, dia tidak dapat menyelamatkan diri karena terperosok ke dalamnya. Joana sangat menyesal karena sebagai perawat dan sahabat, tak bisa menjaganya.
Kisah lain adalah saat rombongan pengungsi tiba di sebuah rumah besar nan megah, Mereka beristirahat sejenak di rumah itu. Menari menghabiskan malam dan makan sisa perbekalan. Namun ternyata di lantai tiga ditemukan jasad satu keluarga di sebuah kamar tidur. Keluarga ini telah dibantai dan tak ada satupun yang selamat.
Cerita tentang Florian Bek yang berhasil menyamarkan identitas saat tiba di perbatasan. Dia berhasil menyelamatkan diri dan teman-temannya, serta lolos dari pemeriksaan hingga bisa melanjutkan perjalanan menuju Gotenhafen
Ratusan ribu pengungsi memenuhi kapal yang berkapasitas hanya 1.500 orang, namun saat itu jumlah penumpang melebihi kapasitas (jumlahnya 10.000 orang). Banyak kejadian yang dialami para pengungsi di dalam kapal. Emilia melahirkan seorang bayi cantik. Kelahirannya dibantu Joana dan seorang dokter. Joana bertugas sebagai perawat yang membantu seorang dokter di atas kapal. Menolong orang-orang yang terluka dan sakit akibat perang, juga orang-orang yang melahirkan.
Di tengah Laut Baltik dalam perjalanan ke Kiel, kapal ditembaki torpedo Soviet. Perlahan-lahan kapal tenggelam. Banyak kejadian tragis dan mengerikan yang terjadi saat kapal tenggelam. Orang-orang berebut sekoci bahkan ada yang menceburkan diri ke laut. Masing-masing mencoba menyelamatkan diri dan bertahan hidup. Demikian juga dengan Joana, Florian, Emilia dan Alfred.
Heinz si tukang sepatu dan Alfred tak berhasil menyelamatkan diri. Emilia terpisah dari bayinya. Sementara itu bayi Emilia dibawa Joana dan Florian bersama Klaus naik sekoci. Emilia tidak ada kabarnya.
Di akhir kisah diceritakan bahwa akhirnya Joana menikah dengan Florian. Bayi Emilia dan Klaus pun hidup bersama sebagai anak-anak mereka. Selamatkah Emilia dan bagaimana kisah selanjutnya? Baca kisahnya di Salt to the sea.
KESAN MEMBACA BUKU INI
Pada awal membaca buku ini, saya sempat bingung dengan adanya 4 POV dari tokoh-tokohnya. Tetapi semakin mengikuti alur ceritanya, ternyata makin menarik walaupun butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan buku ini dibanding buku yang lain. Novel ini bergenre history fiksi (hisfic) dengan latar belakang PD II yang terjadi di Prusia Timur pada tahun 1945.Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari buku ini, ada kisah sedih dan haru, ada pula kisah cinta. Kisah cinta antara Joana dan Florian Bek yang saling tertarik satu dan lainnya, hingga akhirnya mereka menikah setelah selamat dari tragedi maritim tersebut.
Kisah persahabatan sejati di antara para tokohnya. Bayi Emilia dan Klaus akhirnya diangkat anak oleh Joana dan Florian. Bayi Emilia terpisah dari ibunya, sementara Klaus terpisah dari si pujangga Heinz yang tidak berhasil selamat dalam tragedi ini. Selama dalam perjalanan pengungsian, Heinz dan Klaus sangat dekat bagaikan kakek dan cucunya.
Membaca buku ini seakan masuk ke dalam cerita dan ikut merasakan suasana yang menakutkan, menegangkan dan mencekam. Buku ini mengingatkan akan tragedi maritim terbesar yang terjadi setelah kapal Titanic, bahkan menelan korban lebih besar yang sebagian wanita dan anak-anak.


Posting Komentar